JAKARTA, KOMPAS.com - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel belum menunjukkan tanda mereda.
Situasi justru memanas setelah Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dilaporkan menyiapkan strategi baru, termasuk kemungkinan operasi darat di wilayah konflik.
Rencana tersebut sebagai adagium yang ada di kalangan masyarakat Betawi, "loe jual gue beli". Iran tak gentar dengan rencana serangan darat.
Baca juga: Kemlu Sebut Ada Tanggapan Positif Pihak Iran soal Nasib Kapal Pertamina di Selat Hormuz
Dikutip Kompas.com, Kamis (26/3/2026). Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa Ali Bahreini menyebut negaranya mampu mengalahkan pasukan Amerika Serikat dan Israel di darat.
Pernyataannya tersebut disampaikan di tengah upaya AS mengirim pasukan elite dan ribuan tentaranya ke Timur Tengah.
Meski begitu, Bahreini menekankan bahwa Iran telah mempersiapkan diri untuk menghadapi skenario apa pun dalam konfliknya dengan Israel dan AS saat ini.
Bahreini memperingatkan, jika AS-Israel benar-benar melancarkan operasi darat di Iran, maka menurutnya itu merupakan suatu kesalahan besar.
Kapal Indonesia Tertinggal di Selat Hormuz
Di tengah desing rudal dan gemuruh suara ledakan, ada kepentingan Indonesia yang juga tertinggal di Teluk Arab.
Dua kapal milik Pertamina itu adalah Pertamina International Shipping (PIS) VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Kapal berisi bahan bakar minyak (BBM) ini harus parkir di Teluk Arab untuk menghindari "rudal nyasar" dari Iran yang sedang mempertahankan diri.
Bukan tanpa alasan, beberapa kapal tanker minyak Amerika Serikat pernah dirudal Iran saat melewati Selat Hormuz pada 14 Maret 2026.
Baca juga: Spesifikasi Pertamina Pride, Kapal Tanker Raksasa RI Tertahan di Hormuz
Untuk menghindari hal yang sama, keduanya kini masih tertahan dan belum bisa melanjutkan perjalanan.
Di dalam negeri, pemerintah memutar otak agar kapal-kapal dengan muatan energi fosil itu bisa segera tiba memasok BBM ke Tanah Air.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ini tidak mudah namun tidak juga mustahil untuk diusahakan.
Ia menegaskan, koordinasi intensif masih terus dibangun pemerintah Indonesia dengan Iran untuk mengeluarkan dua kapal RI dari kawasan konflik tersebut.