Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membentuk suatu satgas, yang punya mekanisme untuk menjaga arus perdagangan dan pelayaran di Selat Hormuz tetap terjaga. Sebab, mereka khawatir, konflik yang terjadi dan penutupan Selat Hormuz akan membawa krisis yang lebih besar bagi dunia.
"Langkah cepat perlu diambil untuk memitigasi konsekuensi ini," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, Sabtu (28/3).
Satgas ini akan dipimpin oleh Jorge Moreira da Silva, Direktur Eksekutif PBB untuk layanan proyek-proyek.
Skema layanan ini akan serupa seperti proyek gandum PBB untuk Ukraina dan Mekanisme PBB 2720 untuk Gaza.
da Silva telah menyatakan kesanggupannya dalam tugas baru tersebut.
“Saya akan memimpin satgas PBB untuk mencegah krisis kemanusiaan besar dengan memastikan kapal yang membawa pupuk dan bahan bakunya tetap bisa melintasi Selat Hormuz,” tulisnya dalam cuitan di platform X.
Menurut da Silva, gangguan jalur laut di kawasan tersebut berisiko memicu efek berantai terhadap berbagai sektor.
“Gangguan perdagangan maritim melalui selat ini berisiko menciptakan efek domino terhadap kebutuhan kemanusiaan dan produksi pertanian dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
PBB juga menyatakan siap mendukung penuh operasi tersebut untuk menjaga stabilitas pasokan global.
“PBB siap mendukung operasi penyelamatan ini untuk membantu negara-negara di Timur Tengah dan kawasan lain, termasuk Afrika dan Asia, yang bergantung pada impor pupuk,” kata dia.




