Keputusan untuk pensiun, dalam bayangan banyak orang, kerap identik dengan usia senja. Masa ketika tubuh mulai melambat dan ritme hidup diturunkan. Namun, pola itu kini berubah. Di tengah dinamika dunia kerja yang makin cair, pensiun tidak lagi selalu menunggu usia 55 atau 60 tahun. Ia bisa datang lebih awal, baik dipilih atau dipaksa oleh keadaan.
Di usia 30 tahun, Bunga Octania mengambil pilihan yang tidak lazim ini. Setelah lebih dari satu dekade berkarier di perusahaan swasta, ia memutuskan berhenti bekerja per akhir Maret 2026, tepat seusai jeda sekolah untuk mengambil gelar magister. Ia memilih mengambil paket pensiun dini yang ditawarkan kantornya.
Namun bagi Bunga, keputusan itu bukan akhir. ”Ini bukan berhenti bekerja, tapi fase transisi. Kesempatan untuk menata ulang arah profesional dan pribadi,” katanya kepada Kompas, Minggu (15/3/2026).
Dengan gelar S2 yang baru diraih, ia tidak memilih berdiam diri. Dalam jangka menengah, rencananya jelas, yakni mengambil sertifikasi penasihat keuangan tersertifikasi atau Certified Financial Planner dan memperdalam kemampuan di bidang analitik data.
Langkah ini juga menjadi cara untuk menutup skill gap yang mungkin terbentuk selama bertahun-tahun bekerja dalam satu industri. Bekal itu juga ia siapkan untuk kembali memasuki dunia kerja yang baru.
Rencana itu akan ia eksekusi dengan sebagian dana yang Bunga peroleh dari program pensiun dini. Adanya dana yang cukup besar, ia yakini cukup untuk menopang kebutuhan itu, selain disisihkan untuk investasi jangka panjang sebagai dana hari tua.
“Dengan perencanaan finansial yang matang, investasi pada pengembangan diri, serta keterbukaan untuk kembali ke workforce dengan keterampilan baru, fase ini justru dapat menjadi awal dari babak hidup saya berikutnya,” ujar Bunga.
Pilihan yang diambil Bunga untuk jeda sejenak dari rutinitas juga dikenal dengan istilah pensiun mini. Istilah ini antara lain dicetuskan Tim Ferriss dalam bukunya The 4-Hour Workweek di 2007, meskipun konsep ini bukan baru dilakukan masyarakat di dunia (Kompas.id, 19/11/2025).
Menariknya, fenomena pensiun dini memang tidak selalu lahir dari pilihan sadar, seperti yang Bunga pilih. Studi yang dilakukan oleh Transamerica Institute dan Transamerica Center for Retirement Studies (TCRS) pada 2023 menunjukkan realitas yang lebih kompleks.
Survei nasional yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap lebih dari 10.000 responden, termasuk 2.404 pensiunan, mengungkap bahwa 58 persen pensiunan berhenti bekerja lebih cepat dari rencana awal. Sebagian besar bahkan sudah berhenti bekerja sebelum usia 65 tahun, menandakan bahwa batas usia pensiun formal semakin tidak relevan dalam praktiknya.
Keputusan pensiun dini, menurut 21 persen responden diambil karena kesiapan finansial. Namun, sebagian besar lainnya terdorong oleh faktor di luar kendali, seperti masalah kesehatan (46 persen) atau dinamika pekerjaan, termasuk pemutusan hubungan kerja dan perubahan organisasi (43 persen).
Studi yang sama menunjukkan bahwa banyak mereka yang mengambil pensiun dini tidak siap secara keuangan. Hanya separuh yang merasa memiliki dana pensiun yang cukup. Bahkan, 26 persen secara tegas menyatakan tabungan mereka tidak memadai.
Sebagian besar pensiunan masih harus bergulat dengan berbagai prioritas keuangan, yakni membayar utang, memenuhi kebutuhan hidup, hingga menyiapkan dana darurat. Sekitar 45 persen masih memiliki utang, dan hampir sepertiga hanya bertahan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Ketergantungan pada sumber pendapatan pun menjadi isu. Mayoritas mengandalkan jaminan sosial sebagai sumber utama, sementara hanya sebagian kecil yang benar-benar hidup dari hasil investasi.
Di sisi perencanaan, mayoritas pensiunan sebenarnya mengaku memiliki strategi keuangan. Namun, hanya 19 persen yang memiliki rencana tertulis, sementara sisanya masih bersifat informal atau bahkan tidak memiliki rencana sama sekali. Pengetahuan tentang keuangan pribadi nyatanya belum merata, meski sebagian besar merasa memiliki pemahaman dasar tentang literasi finansial.
Di Indonesia, kecenderungan serupa ditangkap oleh studi Bank DBS Indonesia bertajuk DBS Ageing Society pada bulan April-Mei 2025. Survei yang dilakukan online terhadap 400 responden dari usia 22-59 tahun di Jakarta, Surabaya, dan Medan ini mengungkap kesenjangan nyata antara fenomena ketenagakerjaan ini dan kesiapan finansial mereka.
Survei menyimpulkan, 74 persen orang Indonesia mengaku memiliki rencana pensiun, dengan mayoritas generasi lebih muda (di bawah usia 43 tahun) mengaku sudah punya perencanaan pensiun. Sementara itu, 36 persen generasi muda usia 22-27 tahun tidak tahu cara memulai perencanaan pensiun.
Responden dari kelompok usia 44-59 tahun yang mendekati masa pensiun justru menunjukkan kesiapan perencanaan pensiun terendah (66 persen), lebih rendah dibanding generasi lebih muda.
Kendati demikian, generasi yang lebih tua ini memiliki aset yang dapat dijadikan jaminan hidup di masa pensiun, dengan 52 persen memiliki properti, 43 persen kepemilikan bisnis, dan 35 persen pendapatan pasif. Ini berbeda dengan generasi muda yang umumnya masih bergantung pada tabungan konvensional.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika, ditemui Kompas di Jakarta, Selasa (10/3/2026), menjelaskan, kesiapan finansial untuk masa pensiun oleh responden yang lebih senior lebih karena waktu mereka yang lebih pendek. Mereka lebih rentan jika tidak memiliki aset-aset yang bisa dijadikan bantalan usai tidak lagi produktif menghasilkan uang.
“Kalau masih muda, runway atau masa produktif kita masih panjang. Jadi punya lebih banyak waktu untuk meningkatkan pendapatan, mencoba berbagai investasi, bahkan bangkit jika mengalami kegagalan,” ujarnya.
Untuk itu, Mona menekankan pentingnya perencanaan pensiun sejak dini dengan pendekatan yang lebih personal, yakni menyesuaikan kebutuhan dana dengan gaya hidup masing-masing individu.
Menurutnya, banyak orang memiliki keinginan untuk pensiun tanpa menurunkan kualitas hidup. Untuk itu, perhitungan perencanaan keuangan yang matang dengan mempertimbangkan kebutuhan gaya hidup menjadi penting.
Jika seseorang yang saat ini berusia 30 tahun berencana pensiun pada usia 55 tahun, dan memiliki harapan hidup hingga usia 71 tahun. Berikut rincian pemasukan dan pengeluarannya:
Dana tabungan
- Total deposito: Rp 10.000.000
- Total investasi: Rp 15.000.000
- Rata-rata return per tahun: 5,57 persen
- Dana yang ditabung tiap bulan: Rp 3.000.000
Pengeluaran
- Kebutuhan dasar: Rp 13.000.000
- Kebutuhan lain: Rp 7.500.000
Dengan estimasi kebutuhan pensiun sekitar Rp 19.500.000 juta per bulan (dalam nilai hari ini) dan masa pensiun 16 tahun, maka dia memerlukan dana sekitar Rp 2.521.591.343 atau Rp 19.666.667 per bulan.
Estimasi ini memperhitungkan asumsi inflasi sebesar 3,1 persen serta imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57 persen. Perhitungan ini sudah mencakup kebutuhan dasar (termasuk makanan, utilitas, dan belanja bulanan) serta kebutuhan lainnya (seperti belanja pakaian, olahraga, serta liburan).
Mona menjelaskan, setelah mengetahui kebutuhan dana pensiun, langkah berikutnya adalah menentukan strategi untuk mencapainya. Hal ini mencakup peningkatan sumber pendapatan hingga pemilihan instrumen investasi sesuai profil risiko.
“Kalau dari gaji sekarang tidak cukup, berarti perlu menambah sumber penghasilan. Setelah itu baru menentukan instrumen investasi, apakah konservatif, moderat, atau agresif,” kata dia.
Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Eveline Haumahu, dalam siaran edukasi pers, 2 Desember 2025, menyampaikan, ada cara lain menghitung kebutuhan dana pensiun. Perhitungan yang sering digunakan adalah 25 kali biaya hidup setahun, atau 300 kali biaya hidup sebulan di masa pensiun nanti.
Lalu, ketika masa pensiun itu tiba, maka misi keuangan berubah menjadi strategi mengongkosi hidup hingga waktu yang tak dapat ditentukan, sambil tetap mengalahkan inflasi. Pensiunan harus mulai mengelola bekal yang dipunya untuk mengongkosi hidup ketika tidak lagi produktif.
Eveline menyarankan untuk membagi bekal itu ke dalam tiga dompet, yakni Dompet Konsumsi, Dompet Moderat, dan Dompet Agresif. Pembagian ini bertujuan mengedepankan likuiditas sambil masih mempertahankan sedikit potensi pertumbuhan untuk mengompensasi inflasi.
Dompet Konsumsi menurutnya, berguna untuk menyiagakan biaya hidup selama setahun pertama. Dompet ini bisa menyimpan empat persen dari bekal pensiun di instrumen yang sangat stabil dan anti fluktuasi, misalnya rekening tabungan atau deposito.
Berikutnya, Dompet Moderat berfungsi untuk menempatkan 60-70 persen bekal pensiun di alternatif investasi yang relatif rendah fluktuasi. “Cari yang memberikan potensi imbal hasil sekitar 6 persen setahun, misalnya obligasi atau reksadana pendapatan tetap. Tujuannya, mengembalikan biaya hidup yang telah Anda konsumsi di tahun pertama,” jelasnya.
Ketiga, Dompet Agresif disiapkan untuk membayar efek inflasi yang pasti dihadapi untuk mempertahankan gaya hidup yang sama. Dompet ini hanya untuk sisa bekal tabungan setelah dikurangi dengan kedua dompet sebelumnya. Eveline menyarankan untuk memilih alternatif-alternatif instrumen investasi yang lebih agresif, tetapi tetap terkendali, misalnya saham-saham kapitalisasi besar, atau investasi di reksa dana saham.
“Setelah setahun berlalu, dua hal yang perlu kita lakukan, yaitu mengisi ulang Dompet Konsumsi, dan melakukan rebalancing, atau menyeimbangkan kembali alokasi Dompet Moderat dan Dompet Agresif kita agar tetap memiliki proporsi seperti semua. Rebalancing perlu kita lakukan untuk memastikan portofolio investasi bekal pensiun kita tetap memiliki potensi optimal pada tingkat risiko fluktuasi yang terkendali,” tutur Eveline.
Beda dengan mereka yang masih punya banyak waktu untuk belajar dan memperbaiki kesalahan, menurut Eveline, pensiunan yang berumur lebih senior harus sangat berhati-hati dalam mengelola aset terakhir yang mereka miliki ini. Disiplin dalam hal pengeluaran, disiplin dalam hal memilih instrumen investasi dan komitmen untuk terus mampu hidup mandiri, menjadi kunci di sini.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F11%2F22%2F88a7345f-9107-41af-ab75-93ad06b16dc5.jpg)


