Tim peneliti yang terlibat dalam inovasi ini antara lain Meyla Suhendra, Dr Berry Juliandi, Prof Huda Darusman, Dr Siti Sa’diah, dan Prof Fitmawati. Kangkang katup merupakan tanaman yang belum dibudidayakan secara luas.
Namun, masyarakat di Kepulauan Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai bahan utama minuman herbal pahit yang dipercaya berkhasiat menjaga kesehatan, termasuk memberikan efek awet muda dan umur panjang.
Dr Berry Juliandi menjelaskan, inovasi ini memanfaatkan ekstrak batang kangkang katup yang mengandung senyawa polifenol. Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase, sehingga mampu menekan kadar glukosa darah (antihiperglikemik) sekaligus berperan sebagai antioksidan, khususnya bagi penderita prediabetes dan diabetes tipe 2.
“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal untuk terapi antihiperglikemia. Selain itu, ekstraknya juga berpeluang dimanfaatkan sebagai antioksidan alami guna mencegah stres oksidatif pada penderita diabetes.
Diabetes melitus (DM) sendiri merupakan penyakit degeneratif dengan jumlah penderita yang terus meningkat secara global. Pada 2024, tercatat sekitar 589 juta orang di dunia mengidap diabetes. Indonesia termasuk dalam lima negara dengan jumlah penderita tertinggi, yakni mencapai 20,4 juta orang.
Selama ini, terapi diabetes umumnya menggunakan obat-obatan kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping seiring peningkatan penggunaannya. Kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang efektif dan minim efek samping, seperti yang ditawarkan melalui inovasi kangkang katup ini.
Baca Juga :
Minuman Lemon Madu Karya IPB Bantu Turunkan Tekanan Darah, Masuk 117 Inovasi Indonesia 2025Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





