Wajah Kelam Lebanon: Warga di Ambang Keputusasaan

tvrinews.com
1 hari lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews, Beirut

Eskalasi serangan Israel memaksa jutaan warga sipil mengungsi di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk.

Memasuki pekan keempat konfrontasi bersenjata yang melibatkan kekuatan regional, Lebanon kembali terperosok ke dalam jurang krisis kemanusiaan yang kelam. 

Jutaan warga sipil kini terjebak dalam pusaran konflik, menghadapi serangan berskala besar kedua dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.

Data pemerintah Lebanon menunjukkan sekitar seperempat populasi negara tersebut terpaksa meninggalkan rumah mereka. 

Perintah evakuasi massal yang dikeluarkan militer Israel di wilayah selatan dan pinggiran Beirut, khususnya kawasan Dahiyeh, telah memicu gelombang pengungsian masif yang mencapai 1,2 juta jiwa.

Di tengah ketidakpastian ini, keletihan mental mulai menggerogoti mereka yang bertahan maupun yang mengungsi. 

Lonjakan harga bahan bakar, stagnasi ekonomi, dan ancaman serangan udara yang terus membayangi menciptakan tekanan psikologis yang hebat bagi rakyat Lebanon.

Samiha, seorang guru asal Palestina yang sebelumnya menetap di dekat Tyre, kini harus mencari perlindungan di Beirut. Baginya, ini adalah dejavu yang menyakitkan.

"Ini bukan pertama kalinya bagi kami. Sekarang kami lebih tahu ke mana harus pergi, namun kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung dan apakah ada solusi yang nyata," ungkap Samiha dengan nada getir kepada Jurnalis  Al Jazeera.

Kelompok Rentan dalam Bidikan Krisis

Intensitas konflik meningkat tajam sejak 2 Maret lalu, menyusul aksi saling balas serangan di perbatasan. 

Meski gencatan senjata secara teknis sempat diupayakan sejak akhir 2024, realita di lapangan menunjukkan ribuan pelanggaran yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari pihak Lebanon.

Krisis ini memukul paling keras kelompok masyarakat yang paling rentan: pekerja migran, pengungsi Suriah, dan warga dengan penyakit kronis. 

Rena Ayoubi, seorang relawan di kawasan pesisir Beirut (Biel), menyoroti nasib mereka yang tak memiliki akses medis dasar.

"Kasus paling rentan yang kami temukan adalah pekerja migran dan warga asing. Banyak dari mereka, termasuk pasien kanker dan diabetes, kini kehilangan akses terhadap dialisis maupun insulin karena harus mengungsi tanpa fasilitas penyimpanan obat yang memadai," tutur Ayoubi.

Skala Bencana yang Tak Tertandingi

Perwakilan Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) di Lebanon, Anandita Philipose, menegaskan bahwa situasi tahun 2026 ini berada pada level yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan krisis tahun 2024.

"Perbedaannya terletak pada skala, kecepatan, dan jumlah orang yang terdampak. Perintah evakuasi massal dan penargetan infrastruktur sipil adalah fenomena baru yang sangat menghancurkan," jelas Philipose.

 Ia juga menekankan risiko besar bagi ribuan ibu hamil yang kehilangan akses ke jaringan layanan kesehatan.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon melaporkan setidaknya 1.094 orang tewas dan 3.119 lainnya luka-luka dalam tiga pekan terakhir. Di antara korban jiwa terdapat 81 perempuan dan 121 anak-anak.

Heidi Diedrich, Direktur Nasional World Vision di Lebanon, menyatakan kekhawatiran serupa. "Anak-anak kembali menjadi korban eskalasi ini. Terlepas dari status perlindungan mereka dalam hukum kemanusiaan internasional, dampak kekerasan ini akan membekas pada mereka selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ke depan," ujarnya.

Trauma yang Tak Pernah Usai

Di sebuah kantor di Beirut, para relawan dari National Lifeline Lebanon (1564) bekerja tanpa henti menerima panggilan telepon dari warga yang berada di titik nadir secara mental. 

Jad Chamoun, Manajer Operasional layanan tersebut, menyebutkan bahwa Lebanon telah berada dalam kondisi terburuk selama dua tahun terakhir.

Bahkan sebelum eskalasi Maret ini, data dari Program Kesehatan Mental Nasional menunjukkan tiga dari lima orang di Lebanon menunjukkan gejala depresi, kecemasan, atau PTSD.

"Kondisi hidup yang kami jalani adalah trauma berkelanjutan karena tidak pernah berakhir," kata Chamoun. Sejak krisis ekonomi 2019, ledakan pelabuhan Beirut, hingga pandemi, rakyat Lebanon kini dipaksa masuk ke dalam 'mode bertahan hidup'.

Saat ini, para relawan dan profesional medis berupaya sekuat tenaga untuk merangkul mereka yang mulai kehilangan harapan. "Kami mencoba mendampingi mereka dalam kegelapan yang menyelimuti kami semua. Kami mencoba berbagi rasa sakit ini," pungkas Chamoun.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemeriahan Pasar Murah di Monas, Sejumlah Warga Bawa Pulang Hadiah Motor Listrik
• 52 menit lalutvrinews.com
thumb
Mahfud Kenang Eks Menhan Juwono Sudarsono, Ilmuwan Besar yang Tenang
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Platform Digital Tidak Patuhi PP Tunas akan Dikenakan Sanksi Berat
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kinerja Moncer, Gaji CEO BlackRock Naik 22,4 Persen Jadi Rp 640 Miliar
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Ini 10 Mobil Listrik Paling Diburu di Indonesia Februari 2026
• 20 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.