Kuala Lumpur (ANTARA) - Malaysia, melalui lembaga khususnya, sedang melakukan penilaian komprehensif terhadap potensi program tenaga nuklir.
Penilaian itu mencakup pengembangan kebijakan, kerangka hukum dan peraturan, kelayakan proyek, partisipasi industri, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof, menurut laporan BERNAMA yang dikutip di Kuala Lumpur, Sabtu, mengatakan langkah untuk mengeksplorasi tenaga nuklir guna pembangkit listrik merupakan upaya strategis untuk memperkuat keamanan energi jangka panjang sekaligus mendukung transisi energi bersih nasional.
la mencatat bahwa inisiatif tersebut sejalan dengan Rencana Malaysia Ketigabelas (13MP) yang diajukan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada 31 Juli 2025.
"Kebutuhan untuk mengevaluasi kelayakan tenaga nuklir semakin relevan di tengah lanskap energi global yang berubah, yang dibentuk oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasokan serta harga bahan bakar," kata Fadillah Yusof yang juga merupakan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA) Malaysia.
Penilaian program tenaga nuklir dilakukan oleh MyPOWER Corporation Malaysia, sebuah lembaga di bawah Kementerian PETRA, telah ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO), yang bertugas mengkoordinasikan persiapan berdasarkan pendekatan bertahap yang direkomendasikan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Fadillah menunjukkan bahwa ketegangan global, khususnya di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi utama seperti Selat Hormuz, telah berdampak pada pasar energi dan stabilitas pasokan.
"Dalam konteks ini, tenaga nuklir menawarkan daya beban dasar yang stabil dan rendah karbon serta dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," katanya.
la menambahkan bahwa beberapa negara ASEAN juga sedang mempertimbangkan kembali tenaga nuklir sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Filipina menargetkan kapasitas nuklir hingga 4.800 megawatt pada tahun 2050, sementara Vietnam telah memperkenalkan kembali tenaga nuklir ke dalam rencana energi nasionalnya.
Sementara itu, Indonesia sendiri sedang menjajaki reaktor modular kecil (SMR), termasuk reaktor terapung, dengan target waktu sekitar tahun 2030.
Fadillah menekankan bahwa prioritas Malaysia adalah memastikan bahwa setiap pengembangan nuklir di masa depan dievaluasi secara cermat melalui analisis teknis yang komprehensif dan diselaraskan dengan prioritas nasional dan kewajiban internasional.
Baca juga: Delegasi Atom Malaysia pelajari pengelolaan limbah radioaktif BRIN
Penilaian itu mencakup pengembangan kebijakan, kerangka hukum dan peraturan, kelayakan proyek, partisipasi industri, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof, menurut laporan BERNAMA yang dikutip di Kuala Lumpur, Sabtu, mengatakan langkah untuk mengeksplorasi tenaga nuklir guna pembangkit listrik merupakan upaya strategis untuk memperkuat keamanan energi jangka panjang sekaligus mendukung transisi energi bersih nasional.
la mencatat bahwa inisiatif tersebut sejalan dengan Rencana Malaysia Ketigabelas (13MP) yang diajukan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada 31 Juli 2025.
"Kebutuhan untuk mengevaluasi kelayakan tenaga nuklir semakin relevan di tengah lanskap energi global yang berubah, yang dibentuk oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasokan serta harga bahan bakar," kata Fadillah Yusof yang juga merupakan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA) Malaysia.
Penilaian program tenaga nuklir dilakukan oleh MyPOWER Corporation Malaysia, sebuah lembaga di bawah Kementerian PETRA, telah ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO), yang bertugas mengkoordinasikan persiapan berdasarkan pendekatan bertahap yang direkomendasikan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Fadillah menunjukkan bahwa ketegangan global, khususnya di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi utama seperti Selat Hormuz, telah berdampak pada pasar energi dan stabilitas pasokan.
"Dalam konteks ini, tenaga nuklir menawarkan daya beban dasar yang stabil dan rendah karbon serta dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," katanya.
la menambahkan bahwa beberapa negara ASEAN juga sedang mempertimbangkan kembali tenaga nuklir sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Filipina menargetkan kapasitas nuklir hingga 4.800 megawatt pada tahun 2050, sementara Vietnam telah memperkenalkan kembali tenaga nuklir ke dalam rencana energi nasionalnya.
Sementara itu, Indonesia sendiri sedang menjajaki reaktor modular kecil (SMR), termasuk reaktor terapung, dengan target waktu sekitar tahun 2030.
Fadillah menekankan bahwa prioritas Malaysia adalah memastikan bahwa setiap pengembangan nuklir di masa depan dievaluasi secara cermat melalui analisis teknis yang komprehensif dan diselaraskan dengan prioritas nasional dan kewajiban internasional.
Baca juga: Delegasi Atom Malaysia pelajari pengelolaan limbah radioaktif BRIN





