BEKASI, KOMPAS.com – PP Tunas (Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak) mulai berlaku pada Sabtu (28/3/2026) dan disambut positif oleh sejumlah orangtua di Bekasi.
Namun, mereka menilai pemerintah tidak cukup hanya membatasi akses, tetapi juga perlu memperketat penyaringan konten di media sosial.
Salah satunya, Erick Kustara (44), yang menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah tepat untuk melindungi anak dari paparan konten negatif.
“Saya menilai pembatasan sosmed ini sangat berguna. Tapi tolong Komdigi juga melakukan filterisasi. Mana konten-konten yang perlu di-block, dan enggak perlu dihadirkan karena bisa merusak regenerasi bangsa ini,” ujar Erick saat ditemui di kawasan Stadion Patriot Chandrabaga, Sabtu.
Baca juga: Orangtua Resah Gim Anak Disusupi Orang Dewasa, Dukung PP Tunas Perketat Pengawasan
Gadget Dinilai Lebih Banyak Dampak NegatifMenurut Erick, maraknya penggunaan gadget di kalangan anak membuat mereka rentan terpapar konten yang tidak bermanfaat.
“Sejauh ini kehadiran gadget, apalagi dengan dimanjakannya aplikasi seperti Roblox (Roblox), Twitter, dan TikTok (TikTok), kebanyakan mudaratnya. Manfaatnya justru jadi kurang,” kata dia.
Ia menambahkan, rasa ingin tahu anak yang tinggi membuat mereka kerap mencoba berbagai aplikasi tanpa pengawasan.
Di sisi lain, keterbatasan waktu orangtua menjadi tantangan dalam mengawasi penggunaan gawai.
“Harusnya anak main handphone setelah pulang sekolah. Tapi ketika orangtua tidak ada, dia bisa mencuri waktu. Akhirnya jadi bebas bermain gawai,” ujarnya.
Baca juga: Aturan Pembatasan Medsos Anak Dinilai Efektif, Tapi Lingkungan Jadi Tantangan
Aktivitas Positif Jadi SolusiMeski demikian, Erick mengakui media sosial juga memiliki sisi positif, terutama dari konten edukatif.
“Di YouTube (YouTube) ada konten edukasi, di TikTok juga ada. Tapi untuk game seperti Roblox atau aplikasi seperti Twitter, menurut saya untuk anak usia SMP masih belum layak,” katanya.
Untuk mengurangi ketergantungan gadget, ia menyarankan agar anak diperbanyak aktivitas di luar gawai, seperti pramuka, olahraga, sains, atau seni.
“Perbanyak kesibukan di sekolah. Itu bisa menghabiskan waktu anak dengan hal positif,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan anak dari konten negatif seperti pornografi, judi online, hingga hoaks, serta perlunya peran lingkungan dalam membentuk kebiasaan anak.
“Kalau perlu aplikasi yang banyak konten negatifnya ditutup saja. Kasihan anak-anak belum bisa memilah,” katanya.




