Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai Indonesia berada dalam posisi dilematis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat terkait pengendalian Selat Hormuz.
Hikmahanto mengungkapkan, Iran saat ini secara efektif telah mengendalikan jalur strategis tersebut yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia.
"Iran secara efektif saat ini mengendalikan Selat Hormuz. Hingga saat ini kapal-kapal tanker pengangkut minyak dari sejumlah negara diperbolehkan melewati tanpa diserang," kata Hikmahanto dalam keterangannya, Minggu (29/3).
Menurutnya, Iran menerapkan kebijakan selektif terhadap kapal tanker yang melintas, dengan mengelompokkan negara berdasarkan hubungan politik.
"Iran mengkategorikan kapal-kapal tanker yang boleh dan tidak boleh melewati Selat Hormuz berdasarkan negara yang memusuhi (hostile states) dan non-hostile states," ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah negara yang tidak dianggap sebagai musuh oleh Iran tetap diberikan akses melintasi Selat Hormuz.
"Negara yang bukan musuh Iran dan telah diperbolehkan melewati Selat Hormuz adalah Rusia China, Pakistan, India, Thailand, Malaysia dan belakangan Indonesia," ucap dia.
"Demikian pula Turki yang telah mendapat akses terbatas untuk melewati Selat Hormuz," sambungnya.
Sementara itu, ia menyebut beberapa negara Eropa dikabarkan tengah melakukan pendekatan diplomatik dengan Iran.
Hikmahanto menilai jumlah negara yang akan membuka komunikasi dengan Iran berpotensi terus bertambah.
"Bukannya tidak mungkin jumlah negara yang hendak bernegosiasi dengan Iran akan bertambah," terang dia.
Di sisi lain, Hikmahanto menjelaskan, Iran menetapkan tiga negara sebagai pihak yang tidak diperbolehkan melintas.
"Ada tiga negara yang dikatagorikan oleh Iran sebagai musuh yang tidak mendapat akses melewati Selat Hormuz yaitu AS, Israel dan Inggris," ujar Hikmahanto.
Kebijakan tersebut, katanya, dinilai berpotensi memicu respons keras dari Amerika Serikat, terutama di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Lebih lanjut, Hikmahanto memperingatkan bahwa situasi ini dapat memicu polarisasi global baru, di mana Amerika Serikat juga berpotensi menerapkan klasifikasi serupa terhadap negara lain.
"Untuk menanggapi strategi Iran, bukannya tidak mungkin Trump juga akan mengkualifikasi negara-negara yang menjadi teman dan musuh AS," terangnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berisiko menempatkan sejumlah negara dalam posisi sulit.
"Repotnya bila negara yang dianggap teman oleh Iran akan dianggap musuh oleh AS," kata dia.
Dalam konteks ini, ia menilai, Indonesia menghadapi dilema strategis antara kepentingan ekonomi dan risiko geopolitik.
"Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis," kata dia.
Hikmahanto menjelaskan, di satu sisi Indonesia berkepentingan menjaga kelancaran distribusi energi nasional melalui akses Selat Hormuz, namun di sisi lain harus mempertimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat.
"Di satu sisi Indonesia menginginkan kapal tankernya diperbolehkan melewati Selat Hormuz oleh Iran demi kepentingan nasionalnya. Namun di sisi lain punya potensi dianggap negara musuh oleh AS," tutupnya.





