2.000 Kapal Tertahan di Hormuz, Dunia Kehilangan 20 Juta Barel per Hari

mediaindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

Blokade de facto di Selat Hormuz oleh Iran, sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, memicu krisis energi global yang dinilai sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade.

Sejak perang pecah pada 28 Februari, Teheran terus menghambat jalur pelayaran di selat tersebut, yang biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Baca juga : Kronologi Krisis BBM Australia: Dari Konflik Selat Hormuz hingga Panic Buying

Ketegangan di kawasan tersebut juga memicu lonjakan inflasi serta gangguan pasokan bagi negara-negara yang sangat bergantung pada jalur ini.

Ribuan Kapal Tertahan

Situasi semakin memburuk dengan tertahannya hampir 2.000 kapal di sekitar selat sempit yang terletak di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional, Arsenio Dominguez, mengatakan ribuan kapal kini menunggu izin untuk melintas di kedua sisi selat tersebut.

Baca juga : Daftar Negara yang Diizinkan Iran Melintasi Selat Hormuz

Sementara itu, perusahaan intelijen maritim Windward menyebut banyak operator kapal memilih menunggu di luar kawasan daripada mengambil rute alternatif yang lebih panjang dan mahal.

Iran Pertimbangkan Pungutan Tol

Di tengah situasi tersebut, parlemen Iran dilaporkan tengah mengkaji undang-undang yang memungkinkan penerapan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Menurut rencana ini, Iran akan memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz," kata seorang pejabat Iran, seperti dilansir Al Jazeera, Minggu (29/3).

"Hal ini sepenuhnya wajar. Seperti di koridor lain, ketika barang melewati suatu negara, bea masuk dikenakan. Selat Hormuz juga merupakan koridor. Kami memastikan keamanannya, sehingga wajar jika kapal dan tanker membayar bea kepada kami," tambahnya.

Harga Minyak Melonjak

Dampak blokade ini langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel, meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum konflik.

Lonjakan tersebut memaksa sejumlah negara, terutama di kawasan Asia, untuk melakukan penjatahan bahan bakar serta mengurangi produksi industri.

Beberapa negara terdampak juga dilaporkan melobi Iran agar membuka kembali jalur pelayaran, mengingat selat tersebut menjadi salah satu akses utama ekspor minyak dan gas bagi banyak produsen di kawasan Teluk.

Syarat Iran untuk Akhiri Konflik

Iran diketahui menjadikan kontrol atas Selat Hormuz sebagai salah satu syarat utama dalam upaya mengakhiri konflik.

Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, menyatakan negaranya telah mulai mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintas.

"Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja kita harus melakukan ini dan memungut biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz," ujarnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global melalui jalur energi vital dunia. (Z-10)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Korea ke Dunia Muslim, Perjalanan Hidup Ayana Moon yang Menginspirasi
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Aktor Hollywood Robert De Niro Ikut Demo ‘No Kings’ di AS, Protes Kebijakan Trump
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Liburan Berujung Duka! Satu Keluarga Dihantam Truk Mundur, 3 Tewas
• 21 jam lalurealita.co
thumb
Mobil Huawei Menabrak Balita karena Tidak Mengurangi Kecepatan, Netizen yang Membagikan Video Dipaksa Menulis Surat Pernyataan
• 13 jam laluerabaru.net
thumb
Jadwal dan Link Live Streaming PSIS Semarang vs Persipal FC Malam Ini
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.