Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga memastikan stok bahan bakar pesawat (avtur) Indonesia dalam kondisi aman di tengah bayang-bayang kenaikan harga imbas konflik Timur Tengah.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran mendorong volatilitas harga energi global. Kenaikan harga avtur pun disebut membayangi industri penerbangan setelah periode Lebaran.
Kendati, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, stok avtur di dalam negeri saat ini di atas ketahanan nasional. Kendati demikian, dia tak merici berapa stok avtur yang dimaksud.
"Untuk Stok Avtur Indonesia dalam kondisi sangat aman. Bahkan di atas ketahan stok yang ditentukan," ucap Roberth kepada Bisnis, Minggu (29/3/2026).
Adapun terkait potensi kenaikan harga avtur, pihaknya masih mencermati perkembangan geopolitik yang terjadi. Menurutnya, keputusan menaikkan harga tak hanya ditentukan oleh perkembangan geopolitik global, tetapi juga faktor kebijakan di dalam negeri.
"Untuk penentuan harga saya pikir pasti akan terkoreksi atas dampak geopolitik. Kebijakan dan evaluasi masih dilakukan dalam memonitor kondisi terkini geopolitik dan pastinya faktor kebijakan dalam negeri juga," jelas Roberth.
Belakangan, kenaikan harga avtur telah menekan industri penerbangan. Bahkan Vietnam bersiap mengurangi perbangan mulai April 2026.
Maskapai di Tanah Air pun perlu waspada. Pengamat penerbangan, Gatot Rahardjo, menilai bahwa maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan.
Namun demikian, dia menegaskan bahwa upaya efisiensi semata tidak akan cukup tanpa dukungan kebijakan yang responsif dari regulator. Menurutnya, industri saat ini tengah berada dalam fase rentan, di mana sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang tahun 2025.
Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino apabila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.
“Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar,” ujar Gatot, dikutip Rabu (25/3/2026).
Dia juga mengingatkan agar maskapai tidak terlena dengan adanya penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran. Mulai 1 April mendatang, harga bahan bakar diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.
Lebih lanjut, Gatot menilai diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional.
Baca Juga
- Pertamina Patra Niaga Suplai Avtur Perdana di Bandara Notohadinegoro Jember
- Bahlil Sebut Impor Bensin hingga Avtur Disetop Pada 2027
- Tak Cuma Solar, RI Juga Targetkan Setop Impor Avtur pada 2027





