Raksasa manufaktur Jerman, Volkswagen secara terang-terangan mengungkapkan bahwa industri otomotif negaranya perlu mempelajari kemajuan dan disiplin yang telah dilakukan China selama ini.
Dilansir Reuters, hal itu disampaikan oleh CEO Volkswagen Oliver Blume pada sebuah wawancara dengan Bild am Sonntag (Bild) di tengah upaya produsen mobil tersebut untuk terus melakukan restrukturisasi besar-besaran agar tetap kompetitif.
“China bertindak dengan cara yang sangat terencana dan memiliki prioritas yang jelas. Strukturnya diatur secara optimal, yang kami alami selama di sana adalah tingkat disiplin yang tinggi dan kemauan untuk melakukannya,” ucap Blume.
Dirinya menambahkan, Jerman dapat mengambil banyak hal dari perspektif kemajuan industri otomotif China yang dicapai saat ini. Volkswagen adalah salah satu merek paling dikenal, dan Blume menekankan tingkat persaingan yang kian kompetitif.
"Bayangkan lebih dari 150 kompetitor yang memiliki kekuatan inovasi yang sangat dinamis," jelasnya.
Volkswagen secara grup memang tengah didera masalah penjualan di kancah global. Baru-baru ini, mereka menutup pabrik di Dresden, Jerman yang menandai perubahan besar pertama kalinya dalam sejarah raksasa manufaktur di Eropa selama 88 tahun terakhir.
Berdasarkan laporan dari Financial Times, keputusan tersebut tak lepas dari tekanan keuangan yang dihadapi Volkswagen. Penurunan angka penjualan di China dan Eropa, ditambah kebijakan tarif impor di Amerika Serikat, membuat kinerja bisnis terus terpuruk.
Saat ini, perusahaan mengelola anggaran sekitar 160 miliar euro atau setara Rp 2,7 triliun untuk lima tahun mendatang, lebih rendah dibandingkan periode 2023–2027 yang mencapai 180 miliar euro atau sekitar Rp 3,06 triliun, seiring proyeksi usia kendaraan bermesin bensin yang lebih panjang.
Penutupan produksi di Dresden menjadi bagian dari strategi pengurangan kapasitas Volkswagen di Jerman. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan dengan serikat pekerja yang disepakati tahun lalu, yang juga mencakup rencana pemangkasan sekitar 35 ribu tenaga kerja di merek Volkswagen di Jerman.
Brand Chief Volkswagen, Thomas Schäfer, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang. Ia menyebut langkah ini krusial dari sisi keberlanjutan bisnis perusahaan.
“Keputusan untuk menghentikan produksi di Dresden tidak diambil secara ringan. Namun dari perspektif ekonomi, langkah ini sangat penting,” ujar Schäfer.





