Pupuk Indonesia Lirik Peluang Ekspor Usai Pasokan Global Terganggu

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi buka suara soal dampak perang Iran-Israel terhadap distribusi logistik global pupuk imbas ditutupnya Selat Hormuz.

Rahmad menyebutkan berbeda dengan negara yang mengandalkan pupuk impor, Indonesia justru bersiap mengekspor pupuk, yaitu urea.

Terlebih urea menjadi salah satu komoditas yang terdampak penutupan Selat Hormuz. Dia memproyeksikan setiap tahunnya Selat Hormuz dilewati sekitar 10 juta ton urea.

“Kita justru negara pengekspor urea. Indonesia, Pupuk Indonesia itu mengekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton. Jadi posisi kita untuk pupuk akibat dari geopolitik ini semuanya aman,” kata Rahmad di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Senin (30/3).

Meski demikian, Rahmad memastikan perusahaan yang dipimpinnya akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan nasional sebelum memutuskan mengekspor urea.

Menurut Rahmad, Indonesia memiliki kapasitas produksi urea mencapai sekitar 9,4 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, Indonesia bisa mengekspor 1,5 juta ton hingga 2 juta ton urea, bergantung pada tinggi rendahnya kebutuhan dalam negeri.

Sejumlah negara seperti India, Filipina dan Australia disebut mulai melirik Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka, sebelumnya negara-negara tersebut bergantung pada pasokan pupuk dari Timur Tengah. Ketika distribusi terganggu, negara-negara tersebut mencari alternatif pemasok.

“Produsen terbesarnya kan di Middle East, semua negara, tidak hanya Australia, India, tetapi Amerika itu pasti mengimpor sebagian kebutuhan ureanya dari Middle East,” katanya.

Terlebih saat ini sejumlah negara tengah memasuki musim tanam padi, seperti negara di Asia Selatan, kemudian Australia tengah memasuki musim tanam gandum dan Amerika tanam jagung.

“Jadi ini memang kebutuhan dunia lagi tinggi. Alhamdulillah mudah-mudahan mohon doanya Indonesia, Pupuk Indonesia bisa berkontribusi menyelamatkan pangan dunia,” tuturnya.

Corporate Secretary Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira memutuskan distribusi pupuk bersubsidi menjadi fokus utama tahun ini dengan total alokasi mencapai 9,84 juta ton.

“Jadi kita penuhin dulu fokusnya dalam negeri. Kalau ada kelebihan baru kita bisa ekspor,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan harga urea bisa saja naik jika banyak negara yang memburu, karena pasokan menjadi terbatas. Meski demikian, menurut dia Pupuk Indonesia akan memastikan pupuk subsidi dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Saat ini pupuk urea bersubsidi dibanderol Rp 1.800 per kg, NPK bersubsidi Rp 1.840 per kg, ZA bersubsidi Rp 1.360 per kg, organik subsidi Rp 640 per kg dan NPK untuk kakao Rp 2.640 per kg.

“Tapi komitmen dari Pupuk Indonesia untuk pupuk subsidi, HET tetap sesuai dengan peraturan pemerintah. Jadi untuk petani dalam negeri, petani subsidi dalam negeri itu mudah-mudahan atau kami pastikan tidak akan terdampak lah untuk ini, untuk perang ini,” jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pesan Tegas Ketua Komisi III DPR pada Penegak Hukum soal Kasus Amsal Sitepu
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
John Herdman: Peran Ramadhan Sananta seperti Olivier Giroud
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Bank Indonesia Luncurkan Strategi Baru Operasi Moneter
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cerita Para Pemudik Menginap di Penginapan Murah Cuma Rp15.000 di Terminal Pulo Gebang
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Arus balik via MBZ mulai melandai pada H+7 Lebaran
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.