Bangladesh telah memerintahkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) mematikan lampu dan menurunkan suhu pendingin ruangan untuk menghemat listrik karena perang di Timur Tengah memperburuk krisis energi.
Dikutip dari AFP, negara Asia Selatan berpenduduk 170 juta jiwa ini mengimpor 95 persen kebutuhan minyak dan gasnya. Kementerian Administrasi Publik mengeluarkan serangkaian perintah terkait kehadiran di kantor dan penghematan listrik serta bahan bakar.
"Hanya jumlah lampu, kipas angin, pendingin ruangan, dan peralatan listrik lainnya yang diperlukan yang boleh digunakan," bunyi perintah yang dikeluarkan Minggu malam.
Instruksi itu juga mengingatkan para pekerja untuk mematikan lampu saat mereka pulang, dan memerintahkan agar suhu pendingin ruangan harus diatur pada 25 derajat celsius atau lebih hangat.
Bangladesh sedang mencari pinjaman sekitar USD 2 miliar dari donor multilateral untuk mengatasi masalah energi.
Pemerintah Bangladesh juga telah mengambil beberapa langkah untuk menghemat konsumsi bahan bakar, termasuk menetapkan batasan pembelian bahan bakar, menghentikan produksi di sebagian besar pabrik pupuk, dan mengerahkan polisi untuk berpatroli di stasiun pengisian bahan bakar.





