Bank Sentral Jepang mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut di tengah meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak global, menyusul konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Diskusi ini terungkap dalam ringkasan rapat kebijakan moneter bulan Maret. Laporan menunjukkan kekhawatiran bahwa bank sentral dapat tertinggal dalam merespons inflasi jika tidak bertindak lebih cepat.
Baca Juga: Hubungi Trump, Australia Mulai Pertanyakan Tujuan Perang Iran-Amerika Serikat
Salah satu anggota dewan kebijakan menyatakan adanya risiko bahwa bank sentral bisa tertinggal dari kurva jika efek lanjutan inflasi dari faktor eksternal terus meningkat. Lonjakan harga energi dinilai dapat memicu kenaikan inflasi yang lebih luas, termasuk melalui biaya produksi dan harga konsumen.
Sebelumnya, Bank Sentral Jepang mempertahankan suku bunga jangka pendek di 0,75%. Namun, bank sentral tetap mempertahankan kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat, mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda menyatakan bahwa perhatian dewan kini lebih tertuju pada risiko kenaikan inflasi dibandingkan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa mereka dapat segera mengakhiri periode suku bunga rendah yang telah berlangsung lama.
Diketahui, Konflik Iran dan Amerika Serikat telah mendorong kenaikan harga minyak global secara signifikan. Chief Executive Officer (CEO) BlackRock, Larry Fink mengatakan bahwa jika konflik mereda, risiko terhadap jalur perdagangan dan keamanan energi tetap tinggi jika tak ada tindakan terhadap manuver dari Iran di Selat Hormuz.
Ia menilai ancaman terhadap jalur vital pelayaran kapal tanker energi tersebut dapat membuat harga minyak bertahan lama di atas level dari US$100 hingga US$150. Menurutnya, skenario tersebut akan membawa dampak besar terhadap perekonomian global.
Fink menegaskan bahwa lonjakan harga energi ke level tersebut hampir pasti akan mendorong dunia ke dalam resesi, mengingat efek berantai terhadap inflasi, daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
Terbaru, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdamai dengan Iran. Hal ini memberikan sedikit harapan terkait konflik di Timur Tengah.
Ia mengatakan pemimpin baru dari negara terkait cukup rasional. Oleh karenanya, ia optimistis akan mencapai kesepakatan dengan Teheran. Meski demikian, ia juga menyebut ada kemungkinan bahwa kesepakatan tidak tercapai dengan Iran.
Baca Juga: Perang Meletus Kembali, Diplomasi Iran-Amerika Serikat Terancam Konflik Afghanistan dan Pakistan
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian di sisi lain tengah menkaji proposal itu. Ia juga menegaskan pentingnya membangun kepercayaan sebagai dasar untuk membuka jalur negosiasi. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya belum melupakan bagaimana serangan terjadi tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Washington.





