MAKASSAR, KOMPAS - Di akhir masa libur Lebaran, dua warga Makassar, Sulawesi Selatan, hilang diterjang air bah di Sungai Kalimborang, Maros. Penyebabnya, air di sungai, yang dikelilingi batuan karst, itu tiba-tiba meluap. Upaya pencarian korban masih dilakukan.
Dua korban bernama M Fajrin (20) dan Nur Aziza (20), mahasiswa asal Bumi Tamalanrea Permai, Makassar. Air bah datang tiba-tiba sekitar pukul 14.00 Wita, Minggu (29/3/2026).
Seorang saksi mata, M Yusuf menuturkan, bersama pengunjung lainnya, kedua korban sedang berenang di sungai. Namun, debit air mendadak meningkat. Nahas, korban terseret karena tidak sempat menyelamatkan diri.
“Kami segera melaporkan kejadian ini ke pemerintah desa,” ucap Yusuf, Senin (30/3/2026).
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar Arif Anwar menyampaikan, pihaknya telah mengerahkan satu tim rescue menuju lokasi kejadian guna melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan.
Sebelumnya, pencarian awal telah dilakukan oleh warga bersama aparat setempat. Namun, keberadaan kedua korban belum ditemukan.
"Kami telah memberangkatkan tim rescue dari Kantor Basarnas Makassar ke lokasi kejadian di Kecamatan Tompobulu. Fokus utama saat ini adalah berkoordinasi di lapangan dan penyisiran awal di area hilir sungai," ujarnya.
Tim SAR Gabungan, ia melanjutkan, akan terus memantau dan menyisir hingga batas waktu yang memungkinkan, dengan memperhatikan faktor cuaca dan keselamatan personel di lapangan.
Ke depan, masyarakat diimbau waspada saat beraktivitas di sekitar sungai. Alasannya, cuaca ekstrem dapat memicu terjadinya air bah secara tiba-tiba.
Kasus air bah yang menelan korban terus berulang di wilayah ini. Pada pertengahan 2025, seorang pelajar SMA juga terseret air bah saat berwisata bersama rekan-rekannya.
Seorang mahasiswi Universitas Hasanuddin juga terseret air bah saat berenang di sebuah sungai di Maros. Korban ditemukan meninggal dunia sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian.
Bahkan, pada Januari 2025, tiga mahasiswi Unhas juga meninggal saat survei lokasi kegiatan di Maros. Ketiganya terseret arus sungai yang tiba-tiba mengalami kenaikan debit air dengan arus yang deras.
Sungai di wilayah ini memang terkenal dengan arus yang mengalir diantara batu karst. Namun, potensi bahaya kerap dilupakan. Debit air bisa tiba-tiba melonjak meski hujan tidak turun. Hujan di hulu sangat berpotensi membuat air bah datang tiba-tiba.





