Rupiah Jebol 17.000! Ini Penyebab Utamanya

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus Rp17.000 pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.002 per dolar AS atau melemah 22 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.979 per dolar AS.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap potensi eskalasi konflik Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu.

“Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam konflik, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim kepada wartawan.

Iran menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah.

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya menyebut negosiasi dengan Iran berjalan baik dan berpotensi menghasilkan kesepakatan. Namun, ia tidak memberikan tenggat waktu yang jelas, sembari memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Teheran.

“Trump pekan lalu memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April. Iran sebagian besar menolak gagasan pembicaraan langsung dengan AS sejak konflik dimulai pada akhir Februari,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran. Tekanan fiskal saat ini bersifat struktural, berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, serta kebutuhan belanja prioritas.

“Karena itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri sendiri untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan,” ujarnya.

Baca Juga: Perkuat Likuiditas dan Stabilitas Rupiah, BI Luncurkan Repo Valas

Baca Juga: Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Nyaris Tergelincir ke Rp17.000 per USD

Secara umum, ruang efisiensi anggaran pemerintah dinilai masih memadai, tetapi terbatas dan harus diterapkan secara selektif. Ruang efisiensi realistis terutama berasal dari belanja nonprioritas, mengingat struktur belanja yang semakin ketat, khususnya untuk subsidi energi, belanja pegawai, dan bunga utang.

“Pelaksanaan efisiensi anggaran perlu dipastikan tetap memenuhi kualitas belanja, sehingga tidak hanya sekadar penghematan,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bentrokan Demo No Kings di Los Angeles, Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Massa
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Dokter di Cianjur Meninggal Diduga karena Campak, KDM Ambil Langkah
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Markas Pasukan Penjaga Perdamaian PBB Indonesia di Lebanon Diserang Israel, 1 Tewas dan Beberapa Luka Parah
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Lee Min Woo Shinhwa Resmi Menikah, Digelar Privat di Seoul
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Cuma di Transmart Mesin Cuci Bukaan Depan Harganya Rp3 Jutaan
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.