JAKARTA, KOMPAS.com – Perasaan haru, sedih, sekaligus pasrah menyelimuti warga Kamal dan Pegadungan, Kalideres, Jakarta Barat, saat harus mengemasi barang-barang mereka untuk direlokasi ke rumah susun.
Setelah puluhan tahun tinggal di atas lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik Pemprov DKI Jakarta, mereka kini harus meninggalkan hunian yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Meski berat, sebagian warga memilih menerima relokasi dengan harapan mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak dan sehat.
Baca juga: Lansia di Kamal Tolak Direlokasi ke Rusun Nagrak, Ancam Tidur di Kelurahan
Susilawati (68), salah satu warga yang direlokasi ke Rusun Nagrak, Jakarta Utara, mengaku telah berlapang dada meski harus pindah jauh dari tempat tinggal lamanya. Ia menyadari bahwa lahan yang selama ini ditempatinya merupakan milik pemerintah.
"Karena tanah pemerintah, masa saya mau pertahanin? Saya sudah tinggal di situ 20 tahun aja sudah untung. Enggak ada pilihan, saya ngontrak juga enggak punya duit. Mau ngapain lagi?" kata Susilawati saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin.
Susilawati mengaku sempat mencari kontrakan di kawasan Kamal. Namun, biaya sewa yang mencapai sekitar Rp 1 juta per bulan tidak mampu ia penuhi, sehingga relokasi menjadi satu-satunya pilihan.
Di Rusun Nagrak, ia mendapatkan keringanan biaya sewa sebesar Rp 550.000 per bulan, ditambah fasilitas bebas sewa selama enam bulan pertama.
"Ikhlas saja, yang penting saya mah terprogram. Bisa dapat bantuan lansia, dapat bansos, dapat PKH. Jadi saya hidup sendiri di sana ada jaminan lah sedikit-sedikit pemasukan," jelasnya.
Baca juga: Lansia di Kamal Ogah Direlokasi ke Rusun Nagrak, Jarak ke Tempat Kerja Jadi 42 Km
Hunian yang layakBagi Susilawati, relokasi bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga harapan akan kehidupan yang lebih sehat di usia senja.
"Di masa tua, kami kepengennya sehat, katanya di rusun itu kayak apartemen. Ya, saya kepengin. Hidup enak, tidur enak, bersih. Selama ini kan tinggal di sini di rumah gubuk, banyak tikus. Saya pengen sehat," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengaku tengah menjalani pengobatan akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Karena itu, ia berharap lingkungan baru yang lebih layak dapat membantu proses pemulihan kesehatannya.
"Kemarin lihat di foto sih bagus, ditunjukkin, insya Allah hidup lebih baik lah di sana, lebih sehat. Siapa tahu dengan pindah di rumah yang sehat, penyakitnya hilang, gitu aja saya mah," harapnya.
Kepindahan Susilawati turut didampingi anaknya, Mega (25), yang juga membawa seorang anak.
Berdasarkan data Pemkot Jakarta Barat, Mega sebenarnya mendapat unit di Rusun Pesakih, Cengkareng. Namun, ia memilih ikut ibunya ke Rusun Nagrak yang berjarak sekitar 35 kilometer.
Baca juga: Warga Kamal Pilih Direlokasi ke Rusun Ketimbang Sewa Kontrakan, Ini Alasannya
"Karena kan sudah beda KK, terus kasihan masa ibu relokasi tinggal sendirian di Nagrak, akhirnya saya ngalah, ikut aja deh ke Nagrak biar bisa nemenin ibu," ucap Mega.





