Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin turun 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.002 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per USD. Pelemahan ini dipicu eskalasi perang Iran pasca kelompok Houthi membuka front baru dalam perang.
Sedangkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.993 per USD dari sebelumnya Rp16.957 per USD.
"Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah," jelas pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Senin, 30 Maret 2026.
Mengutip Sputnik, Gerakan Ansar Allah Yaman atau Houthi, menyerang Israel dengan rudal untuk kedua kalinya dalam sehari. Serta akan melanjutkan serangan sampai Israel menghentikan serangannya terhadap Iran dan Lebanon.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Baca Juga :
Dukung Stabilitas Rupiah, BI Tetapkan SVBI-SUVBI Jadi 'Underlying' Transaksi Repo ValasSebagaimana dilaporkan Anadolu, Pemimpin Houthi Yaman Abdul-Malik al-Houthi telah mengatakan kelompoknya akan mendukung Iran melawan "agresi AS-Israel". Serta siap menghadapi perkembangan apapun dalam konfrontasi yang sedang berlangsung.
Serangan ilegal AS dan Zionis Israel terhadap Iran dianggap oleh Houthi sebagai "perang terhadap Islam dan Muslim" dan memperingatkan konflik tersebut menargetkan seluruh wilayah. Sentimen lainnya berasal dari kesiapan Iran menghadapi invasi darah oleh AS pasca-Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah.
"Presiden Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu yang jelas, sambil juga memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut terhadap Tehran," ujar dia.
Melihat data ekonomi AS, Universitas Michigan mengungkapkan rumah tangga Amerika mulai pesimis tentang kondisi ekonomi.
"Sentimen Konsumen pada Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen," ungkap Ibrahim.




