Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Senin (30/3/2026) tercatat melemah 22 poin atau 0,13 persen, berada di level Rp17.002 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sentimen ekonomi global.
Ibrahim Assuaibi pengamat mata uang dan komoditas menyatakan bahwa eskalasi konflik di Iran menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah.
“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Mereka memiliki kemampuan melancarkan serangan di Laut Merah, yang bisa membuka front baru dalam konflik,” kata Ibrahim dilansir dari Antara.
Mengutip laporan Sputnik, kelompok Houthi atau Gerakan Ansar Allah Yaman meluncurkan rudal ke wilayah Israel untuk kedua kalinya dalam sehari, dengan ancaman akan melanjutkan serangan sampai Israel menghentikan aksi militer terhadap Iran dan Lebanon.
Abdul-Malik al-Houthi pemimpin Houthi menegaskan bahwa kelompoknya siap mendukung Iran melawan “agresi AS-Israel” dan menghadapi segala kemungkinan dalam konfrontasi yang tengah berlangsung.
Menurut al-Houthi, serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan “perang terhadap Islam dan Muslim,” yang berpotensi memengaruhi seluruh kawasan.
Selain faktor geopolitik, sentimen pasar juga terdampak oleh kesiapan Iran menghadapi kemungkinan konflik lebih luas setelah Amerika Serikat menempatkan ribuan pasukan tambahan di Timur Tengah.
“Donald Trump menyebut bahwa negosiasi dengan Iran berjalan baik dan kesepakatan mungkin segera tercapai. Namun, ia tidak memberikan tenggat waktu jelas dan memperingatkan kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap Tehran,” tambah Ibrahim.
Dari sisi ekonomi, data Universitas Michigan menunjukkan penurunan sentimen konsumen AS.
“Indeks Sentimen Konsumen pada bulan Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, lebih rendah dari perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan naik dari 3,4 persen menjadi 3,8 persen, sementara proyeksi lima tahun tetap di 3,2 persen,” jelas Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan, berada di Rp16.993 per dolar AS dibandingkan Rp16.957 per dolar AS pada penutupan sebelumnya. (ant/saf/ipg)




