Sebuah laporan yang dikeluarkan kelompok HAM, Amnesty International, pada Senin (30/03), memperingatkan bahwa Piala Dunia yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko pada musim panas mendatang dapat menimbulkan "risiko dan dampak signifikan bagi para penggemar, pemain, jurnalis, pekerja, dan komunitas lokal."
Laporan yang berjudul "Humanity Must Win: Defending Rights, Tackling Repression at the 2026 FIFA World Cup" ini secara khusus mengkritik Amerika Serikat, yang akan menjadi tuan rumah untuk sebagian besar pertandingan, 78 dari total 104.
Amnesty menggambarkan kondisi di AS sebagai "darurat hak asasi manusia", dan menyoroti apa yang disebut sebagai "pola praktik otoritarian yang dapat dikenali."
"Agen-agen bersenjata mendobrak pintu, menahan anak-anak, dan telah mendeportasi ratusan ribu orang," dikutip dari laporan tersebut, merajuk pada tindakan aparat imigrasi ICE yang dikerahkan ke beberapa negara bagian di AS, terutama Minnesota, di mana dua warga negara AS ditembak mati pada Januari lalu.
Laporan ini juga mengutip The New York Times yang mengestimasi bahwa lebih dari 500.000 orang dideportasi dari Amerika Serikat pada 2025.
Amnesty menambahkan bahwa kelompok pendukung LGBTQI+ merasa tidak aman untuk tampil secara terbuka, dan pendukung dari empat negara peserta dilarang masuk ke AS.
Menurut congress.gov, warga negara Haiti dan Iran dikenai larangan masuk total, sementara Pantai Gading dan Senegal dikenai pembatasan perjalanan sebagian. Partisipasi Iran dalam turnamen pun diragukan karena perang AS–Israel melawan negara tersebut.
Kanada dan Meksiko dikecamMeski Kanada dan Meksiko masing-masing dijadwalkan hanya menyelenggarakan 13 pertandingan, kedua negara ini juga mendapatkan kritik dalam laporan.
Amnesty mengatakan bahwa otoritas di Meksiko memobilisasi 100.000 personil keamanan, termasuk militer, untuk merespons tingginya tingkat kekerasan di negara tersebut. Laporan ini juga mencatat bahwa sebuah kelompok perempuan menuntut kejelasan tentang lebih dari 133.000 orang yang terdaftar sebagai orang hilang, dan merencanakan aksi damai di luar Stadium Azteca pada pertandingan pembuka Piala Dunia.
Sementara untuk Kanada, Amnesty menyoroti kekhawatiran bahwa tunawisma berisiko semakin terpinggirkan, terutama di kota tuan rumah Vancouver dan Toronto. Laporan tersebut juga mengatakan bahwa, seperti di AS dan Meksiko, Kanada memberlakukan pembatasan terhadap hak berkumpul secara damai, terutama terhadap "gelombang demonstrasi mendukung hak asasi rakyat Palestina dan kamp mahasiswa yang menuntut divestasi dari genosida Israel," yang menurut Amnesty "dibubarkan atau dibersihkan secara berlebihan" oleh polisi.
Amnesty: Berpotensi lebih banyak represi"Piala Dunia 2026 berpotensi menghadirkan lebih banyak represi daripada sepak bola. Siapa pun yang memprotes atau menyampaikan kritik harus siap menghadapi represi selama Piala Dunia," kata Julia Duchrow, Sekretaris Jenderal Amnesty International di Jerman.
"Jika penggerebekan oleh US Immigration and Customs Enforcement (ICE), penangkapan massal, dan larangan masuk terus berlanjut, turnamen ini akan menjadi simbol intimidasi negara."
Banyak isu yang dikritik dalam laporan tersebut sebenarnya bukan hal baru, karena sebelumnya juga telah disoroti oleh Sport & Rights Alliance, koalisi yang juga diikuti Amnesty, menjelang undian Piala Dunia pada Desember lalu di Washington. Dalam pernyataannya saat itu, kelompok tersebut menyerukan "perlindungan konkret bagi pekerja, atlet, penggemar, jurnalis, dan anak-anak" pada Piala Dunia 2026.
Kini, pimpinan Amnesty International di Jerman, Julia Duchrow, kembali menyampaikan seruan serupa dengan mengatakan: "FIFA dan negara tuan rumah kini harus menghadirkan mekanisme perlindungan yang mengikat agar semua peserta dapat menikmati Piala Dunia tanpa rasa takut dan tanpa diskriminasi."
Respons FIFAFIFA belum memberikan tanggapan khusus terhadap laporan ini. Dalam Pasal 3 statuta resminya, badan pengatur sepak bola tersebut menyatakan bahwa mereka "berkomitmen untuk menghormati semua hak asasi manusia yang diakui secara internasional dan berupaya mendorong perlindungan atas hak-hak tersebut."
Pada 2025, Presiden FIFA Gianni Infantino juga menjanjikan bahwa "semua orang akan diterima di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat untuk Piala Dunia FIFA tahun depan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Hani Anggraini
width="1" height="1" />
(ita/ita)





