Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan Pemerintah Indonesia harus segera melakukan diplomasi dengan Yaman dan Iran untuk mengantisipasi dampak potensi penutupan Selat Bab el-Mandeb terhadap Indonesia.
Bhima mengatakan jalur tersebut merupakan salah satu jalur vital perdagangan global, dengan sekitar 12 persen arus perdagangan dunia melintasinya sebagai rute tercepat dari Asia menuju Eropa dan Afrika.
“Pemerintah harus segera lakukan langkah mitigasi. Pertama, melobi pemerintah Yaman maupun Iran agar kapal kargo yang memuat barang Indonesia tidak dihambat,” ujar Bhima dalam sebuah pernyataan kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Menurut dia, tanpa langkah diplomatik yang cepat, gangguan di Selat Bab el-Mandeb dapat berdampak luas terhadap kegiatan ekspor-impor nasional.
Ia menjelaskan pengalaman pada 2023–2024 menunjukkan gangguan di jalur tersebut mampu memperpanjang waktu pelayaran hingga 15 hari, sekaligus meningkatkan biaya logistik akibat risiko keamanan dan asuransi yang lebih tinggi.
“Kondisi itu membuat biaya logistik naik tajam, baik untuk impor maupun ekspor,” katanya.
Padahal, lanjut Bhima, ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 13,4 persen dari total ekspor per Januari 2026, sehingga gangguan jalur tersebut berpotensi menekan kinerja perdagangan luar negeri.
Dari sisi energi, ia memperkirakan harga minyak dunia dapat melonjak hingga 120 dolar AS per barel apabila Selat Bab el-Mandeb ditutup, yang pada akhirnya akan memicu tekanan inflasi impor, terutama dari sektor pangan dan energi.
“Bahan baku pupuk juga melewati selat ini, dan krisis pupuk memicu tekanan ke produsen pertanian,” ujarnya.
Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkat seiring memburuknya kinerja ekspor dan naiknya biaya impor.
Meski demikian, Bhima menekankan bahwa diplomasi perlu diiringi dengan langkah mitigasi domestik, seperti mempercepat realokasi anggaran ke subsidi energi dan subsidi pupuk.
“Setidaknya butuh tambahan belanja pemerintah Rp515 triliun dengan asumsi tiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel di atas asumsi APBN menambah beban belanja pemerintah Rp10,3 triliun,” ucap dia.
Selain itu, ia menyebut pemerintah perlu menambah subsidi transportasi umum untuk menurunkan konsumsi BBM, serta mempercepat transisi energi terutama di sektor ketenagalistrikan dengan instalasi panel surya, mikro-hidro, dan tenaga bayu.
“Di desa yang penggunaan solar BBM nya tinggi untuk generator bisa didorong mengganti ke energi alternatif,” katanya.
Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kembali menegaskan peran strategis Selat Bab el-Mandeb sebagai jalur utama perdagangan dan distribusi energi global.
Kelompok yang didukung Iran tersebut dilaporkan melancarkan serangan ke Israel sejak akhir Februari, memicu kekhawatiran gangguan pada jalur pelayaran strategis itu, meski belum ada penutupan langsung, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia merupakan pintu utama jalur perdagangan Asia-Eropa melalui Terusan Suez, dengan sekitar 10–12 persen perdagangan global melintas di kawasan tersebut, menurut data Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD).
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik meluas dan mengganggu Selat Bab el-Mandeb, kapal-kapal dapat dipaksa mengambil rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang dapat menambah waktu pelayaran hingga 10-15 hari dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Kondisi ini berpotensi memperparah krisis energi global, terutama di tengah ketegangan yang juga terjadi di Selat Hormuz.
Baca juga: Harga minyak tinggi, CELIOS sarankan pemerintah realokasi belanja
Baca juga: Celios: Transisi energi-revisi APBN jaga pasokan BBM di tengah konflik
Baca juga: Celios: Konflik Iran-AS berpotensi bikin belanja APBN naik Rp515 T
Bhima mengatakan jalur tersebut merupakan salah satu jalur vital perdagangan global, dengan sekitar 12 persen arus perdagangan dunia melintasinya sebagai rute tercepat dari Asia menuju Eropa dan Afrika.
“Pemerintah harus segera lakukan langkah mitigasi. Pertama, melobi pemerintah Yaman maupun Iran agar kapal kargo yang memuat barang Indonesia tidak dihambat,” ujar Bhima dalam sebuah pernyataan kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Menurut dia, tanpa langkah diplomatik yang cepat, gangguan di Selat Bab el-Mandeb dapat berdampak luas terhadap kegiatan ekspor-impor nasional.
Ia menjelaskan pengalaman pada 2023–2024 menunjukkan gangguan di jalur tersebut mampu memperpanjang waktu pelayaran hingga 15 hari, sekaligus meningkatkan biaya logistik akibat risiko keamanan dan asuransi yang lebih tinggi.
“Kondisi itu membuat biaya logistik naik tajam, baik untuk impor maupun ekspor,” katanya.
Padahal, lanjut Bhima, ekspor Indonesia ke Eropa mencapai 13,4 persen dari total ekspor per Januari 2026, sehingga gangguan jalur tersebut berpotensi menekan kinerja perdagangan luar negeri.
Dari sisi energi, ia memperkirakan harga minyak dunia dapat melonjak hingga 120 dolar AS per barel apabila Selat Bab el-Mandeb ditutup, yang pada akhirnya akan memicu tekanan inflasi impor, terutama dari sektor pangan dan energi.
“Bahan baku pupuk juga melewati selat ini, dan krisis pupuk memicu tekanan ke produsen pertanian,” ujarnya.
Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkat seiring memburuknya kinerja ekspor dan naiknya biaya impor.
Meski demikian, Bhima menekankan bahwa diplomasi perlu diiringi dengan langkah mitigasi domestik, seperti mempercepat realokasi anggaran ke subsidi energi dan subsidi pupuk.
“Setidaknya butuh tambahan belanja pemerintah Rp515 triliun dengan asumsi tiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel di atas asumsi APBN menambah beban belanja pemerintah Rp10,3 triliun,” ucap dia.
Selain itu, ia menyebut pemerintah perlu menambah subsidi transportasi umum untuk menurunkan konsumsi BBM, serta mempercepat transisi energi terutama di sektor ketenagalistrikan dengan instalasi panel surya, mikro-hidro, dan tenaga bayu.
“Di desa yang penggunaan solar BBM nya tinggi untuk generator bisa didorong mengganti ke energi alternatif,” katanya.
Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kembali menegaskan peran strategis Selat Bab el-Mandeb sebagai jalur utama perdagangan dan distribusi energi global.
Kelompok yang didukung Iran tersebut dilaporkan melancarkan serangan ke Israel sejak akhir Februari, memicu kekhawatiran gangguan pada jalur pelayaran strategis itu, meski belum ada penutupan langsung, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia merupakan pintu utama jalur perdagangan Asia-Eropa melalui Terusan Suez, dengan sekitar 10–12 persen perdagangan global melintas di kawasan tersebut, menurut data Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD).
Para analis memperingatkan bahwa jika konflik meluas dan mengganggu Selat Bab el-Mandeb, kapal-kapal dapat dipaksa mengambil rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang dapat menambah waktu pelayaran hingga 10-15 hari dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Kondisi ini berpotensi memperparah krisis energi global, terutama di tengah ketegangan yang juga terjadi di Selat Hormuz.
Baca juga: Harga minyak tinggi, CELIOS sarankan pemerintah realokasi belanja
Baca juga: Celios: Transisi energi-revisi APBN jaga pasokan BBM di tengah konflik
Baca juga: Celios: Konflik Iran-AS berpotensi bikin belanja APBN naik Rp515 T





