Grid.ID - Film The Hostage’s Hero mengangkat kisah nyata operasi TNI Angkatan Laut yang terjadi di Selat Malaka pada tahun 2004. Saat itu, 36 sandera berhasil dibebaskan dari kapal yang dibajak perompak bersenjata.
Operasi ini dilakukan oleh awak KRI Karel Satsuitubun-356 di bawah komando Laksamana Madya TNI (Purn.) Achmad Taufiqoerrochman. Kisah penuh ketegangan tersebut kini diangkat menjadi film layar lebar.
Taufiqoerrochman menjelaskan awal mula cerita ini difilmkan. Ia menyebut ide tersebut datang dari Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali.
"Kalau cerita, jadi mungkin ini diawali dengan inisiatif Kasal untuk mengangkat kisah ini menjadi film ya. Ditugaskanlah produser dengan sutradara ke tempat saya, ke Sukabumi itu. Kemudian saya cerita, ya dari cerita melengkapi dari buku, dibuatlah skrip," kata Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026).
Ia juga terlibat langsung dalam penyusunan cerita bersama Kepala Dinas Sejarah Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI I Made Wira Hady Arsanta Wardhana. Keduanya memastikan film tetap sesuai fakta, tetapi tetap menarik untuk ditonton.
"Jadi kami akan padukan—ini kata-katanya—padukan bahasa operasi dengan bahasa sineas. Ketemulah itu. Makanya saya tahu persis itu yang dilaksanakan. Kemudian kami tulis, saya sendiri yang nulis itu ya, kemudian diolah oleh sutradara," jelas Laksamana Madya TNI (Purn.) Taufiqoerrochman.
Menurutnya, film sebagai media hiburan dan edukasi memang perlu sentuhan drama agar tidak terasa seperti dokumenter.
"Kalau murni cerita saya kan dokumenter gitu, bukan lagi tontonan, nanti di museum saja gitu. Tapi karena untuk di bioskop, maka saya serahkan ke insan perfilman. Saya kan enggak tahu, tapi saya kasih garis merahnya ini," tambahnya.
Ia juga menjelaskan bahwa operasi di laut memiliki tantangan tersendiri karena tidak ada batas wilayah yang terlihat jelas seperti di darat.
"Laut itu agak unik gitu ya. Kalau di darat ada batas wilayah, makanya demarkasi kan, ada mark gitu, ada tugu, ada dan sebagainya. Kalau di laut ada enggak tuh? Maka adalah delimitasi. Jadi pembatasan di sini, di sini koordinat sekian gitu kan," paparnya.
Karena itu, strategi menjadi hal yang sangat penting dalam operasi laut, termasuk dalam misi penyelamatan di Selat Malaka tersebut.
"Karakter operasinya itu, laut itu tidak bisa dipagari, tidak bisa diduduki. Laut hanya bisa dikendalikan. Mengendalikan yang terbaik adalah menggelar kekuatan pada waktu dan posisi tepat. Jangan sampai kita datang orang enggak ada, nggak ada artinya kan!" tandasnya.
Film The Hostage’s Hero berfokus pada momen saat kapal MT Pematang dibajak. Cerita mengikuti Letkol Taufiq yang memimpin misi penyelamatan dengan strategi berani.
Bersama timnya di KRI Karel Satsuitubun-356, ia harus bergerak cepat menghadapi perompak dan kondisi laut demi menyelamatkan seluruh sandera.
Film ini akan tayang di bioskop mulai 2 April, dibintangi Donny Alamsyah, Rifky Balweel, Asri Welas, Bang Tigor, Aditya Herpavi, Chocky Sitohang, Ritassya Wellgreat, dan Brata Santoso. (*)
Artikel Asli




