Mengadu Nasib di Jakarta Usai Lebaran: Modal Nekat dan Relasi Keluarga

kompas.com
22 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Deru roda koper terdengar bersahutan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, beberapa hari setelah Lebaran 2026.

Di antara wajah-wajah lelah para penumpang, terselip harapan yang sama. Mencari kehidupan yang lebih baik di ibu kota.

Sebagian datang dengan rencana matang, sudah mengantongi pekerjaan, tempat tinggal, bahkan peta karier.

Namun, tidak sedikit pula yang berangkat hanya dengan modal nekat dan jaringan keluarga yang menjadi penopang awal.

Fenomena ini bukan hal baru.

Baca juga: Pendatang Baru Membanjiri Jakarta, tapi Tak Semua Siap Hadapi Persaingan Kerja

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pola kedatangan pendatang mulai berubah.

Tidak lagi sepenuhnya spontan, melainkan semakin bertumpu pada relasi sosial yang sudah terbentuk sebelumnya.

Lilis Wulandari (23), pendatang asal Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi salah satu wajah dari fenomena ini.

Ia tiba di Jakarta pada H+3 Lebaran, 24 Maret 2026, dengan membawa tabungan sekitar Rp 2 juta.

“Saya diajak teman yang sudah kerja di Tanah Abang. Katanya lagi butuh orang tambahan,” ujar Lilis kepada Kompas.com, Jumat (27/3/2026).

Ajakan itu menjadi titik awal keberaniannya. Tanpa pengalaman merantau sebelumnya, ia langsung menerima tawaran tersebut.

Beruntung, Lilis tidak perlu menunggu lama. Dalam waktu singkat, ia sudah mulai bekerja sebagai penjaga toko baju di kawasan Tanah Abang.

“Langsung ikut jaga toko. Jadi enggak sempat nganggur lama,” kata dia.

Namun, kehidupan di Jakarta tidak serta-merta mudah.

Dengan penghasilan harian Rp 80.000 hingga Rp 100.000, ia harus mengatur pengeluaran secara ketat—mulai dari makan hingga biaya kos.

Ia tinggal di Kebon Kacang, berbagi kamar dengan dua teman lain untuk menekan biaya.

Bagi Lilis, Jakarta adalah tempat penuh peluang, tetapi juga menuntut ketahanan mental.

“Di sini enggak boleh manja. Kalau enggak kuat, susah bertahan,” ucap dia.

Baca juga: Pendatang Baru yang Membawa Harapan dan Kekhawatiran ke Jakarta...

Jaringan keluarga sebagai “jaring pengaman”

Berbeda dengan Lilis, Rian Maulana (24) datang ke Jakarta dengan skenario yang lebih tidak pasti.

Ia tiba sehari setelahnya, H+4 Lebaran, dengan membawa modal Rp 1,2 juta. Tujuannya jelas, mencoba peruntungan di ibu kota, meski belum memiliki pekerjaan tetap.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Saya diajak sepupu. Katanya bisa bantu-bantu dulu di tempat dia kerja,” kata Rian saat dihubungi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
AS Klaim Perundingan dengan Iran Berjalan Baik
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
RI Serukan Investigasi Transparan Usai 2 TNI Gugur di Lebanon
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia di Persimpangan: Arktik dan Bayang Impeachment Trump
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Doa agar Timnas Indonesia Menang
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Doktif Enggan Jenguk Richard Lee di Rutan: Nanti Penuh Emosi
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.