Bersiap Menghadapi El Nino ”Godzilla” 2026

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Belajar dari pengalaman sebelumnya, pemerintah perlu melakukan langkah preventif terhadap peringatan munculnya El Nino ”Godzilla” dengan mempersiapkan manajemen risiko dan mitigasi bencana. Sebab, fenomena iklim ini berpotensi mengganggu tatanan ekonomi dan sosial masyarakat.

Pada 19 Maret 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lewat akun media sosialnya mengumumkan kemungkinan munculnya El Nino pada tahun ini dengan potensi intensitas kuat yang disebut El Nino ”Godzilla”. Kemunculan El Nino ini juga diperkuat dengan fenomena Indian Ocean Dipole positif (IOD+) yang diprediksi mulai terjadi pada April 2026. Bersamaan dengan periode musim kemarau di Indonesia, fenomena ini dikhawatirkan akan membuat kemarau menjadi lebih panjang dan kering.

Informasi terkait kemungkinan munculnya El Nino juga dikeluarkan Climate Prediction Center NOAA pada 23 Maret 2026. Menurut NOAA, El Nino diprediksi muncul pada periode Juni-Agustus 2026 dengan potensi kemunculan sebesar 62 persen. Selain itu, El Nino diprediksi akan tetap terjadi setidaknya hingga akhir tahun 2026.

El Nino sendiri memang merupakan fenomena alam yang muncul bergantian dengan La Nina akibat perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara atmosfer di tengah dan selatan ekuator Samudra Pasifik. Kedua fenomena ini merupakan bagian dari sistem iklim El Nino Southern Oscillation (ENSO).

Bedanya, El Nino muncul akibat suhu permukaan air laut di ekuator Samudra Pasifik yang semakin hangat. Sebaliknya, La Nina muncul seiring dengan suhu permukaan air laut yang semakin dingin di Samudra Pasifik.

Baca JugaAncaman El Nino “Godzilla” dan Rapuhnya Sistem Pertanian Indonesia

Dampak dari kedua fenomena tersebut berbeda-beda berdasarkan kondisi geografisnya. Misalnya, di Indonesia, El Nino cenderung mengakibatkan kekeringan dan kemarau panjang. Adapun di belahan dunia lain, seperti di Tanduk Afrika, cekungan La Plata di Amerika Selatan, dan Amerika Utara bagian tenggara, terjadi curah hujan di atas normal akibat El Nino (Kompas, 9/11/2023).

Selain itu, kedua fenomena itu juga muncul secara periodik dan bergantian. Pola kemunculan ini dapat diamati dari perubahan suhu muka air laut di tengah dan timur di sekitar ekuator Samudra Pasifik melalui Oceanic Niño Index (ONI).

Indeks tersebut menunjukkan anomali suhu permukaan laut terhadap kondisi normal yang dihitung dalam tiga bulan berturut-turut. Apabila indeks menunjukkan penambahan suhu lebih dari 0,5 derajat celsius dalam lima periode tiga bulanan berturut-turut, El Nino sedang terjadi. Sebaliknya, apabila penurunan suhu 0,5 derajat celsius terjadi dalam periode yang sama, La Nina sedang melanda. Semakin besar perubahan suhu semakin besar pula potensi dampak dari fenomena yang dihasilkan.

Misalnya, pada 2023, selama April-Mei-Juni (AMJ), terjadi kenaikan rata-rata suhu muka air laut di Samudra Pasifik sebesar 0,6 derajat celsius. Kenaikan ini terus terjadi secara berturut-turut hingga periode yang sama pada tahun berikutnya. Ini artinya fenomena El Nino terjadi selama kurang lebih 12 bulan, dimulai dari kurun April-Juni 2023 hingga April-Juni 2024.

Contoh lain, pada akhir 2018 hingga pertengahan 2019, terlihat pola kenaikan suhu yang sama secara berturut-turut. Namun, pola tersebut muncul kembali pada akhir 2019 dan awal 2020 meskipun hanya berlangsung selama lima periode triwulan berturut-turut.

Baca JugaEl Nino ”Godzilla” Perburuk Ancaman Karhutla di Sumatera
Dampak El Nino di Indonesia

Kendati sudah menjadi fenomena alam yang wajar, peringatan munculnya El Nino tahun ini tidak dapat dianggap remeh.  Apalagi, menurut para ahli, potensi variasi kekuatan dari El Nino tahun ini cukup besar. Sebab, dari pengalaman beberapa tahun sebelumnya, dampak El Nino bagi Indonesia sangat luas dan besar. Fenomena ini tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga berdampak ke sektor pertanian, perdagangan, serta menimbulkan bencana kekeringan dan kebakaran hutan.

Berkaca pada kurun 2023-2024, produksi beras di Indonesia menurun akibat kemarau panjang dan kekeringan sebagai dampak dari El Nino. Produksi beras pada dua tahun tersebut menurun masing-masing 645.090 ton dan 760.000 ton (Kompas, 5 Juni 2025). Tidak hanya beras, produk pertanian lain, seperti jagung dan cabai, juga terimbas dampak El Nino. Berkurangnya pasokan serta cadangan produk pertanian itu membuat harga jual sejumlah produk tersebut melonjak.

Beras, misalnya. Pada Oktober 2023, harga beras medium naik menjadi Rp 13.852 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kilogram (Kompas, 13 Juni 2024). Masalah tidak berhenti sampai di situ karena nyatanya harga beras internasional juga turut melonjak.

Sebagaimana dipaparkan Guru Besar Universitas Lampung dan ekonom senior Indef, Bustanul Arifin, dalam tulisannya di Kompas pada 8 Agustus 2023, harga beras global rata-rata naik dari 514 dolar AS per ton pada Juni 2023 menjadi 547 dolar AS per ton pada Juli 2023 untuk kualitas Thai 5 persen broken. Kenaikan ini muncul akibat India melarang ekspor beras untuk mengamankan stok beras domestiknya.

Baca JugaEl Nino ”Godzilla” Menyerang, Gambut di Riau Terbakar dan Sumut Kekeringan

Serupa dengan beras, kenaikan harga jagung juga disebabkan oleh menurunnya produksi akibat El Nino. Kenaikan harga ini mulai terasa pada akhir 2023 yang pada saat itu dikhawatirkan akan membuat harga daging dan telur ayam ikut meningkat.

El Nino yang menyebabkan kemarau panjang pada 2015-2016 juga turut berimbas pada bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. El Nino menambah parah karhutla yang sebenarnya juga dipicu oleh pembukaan hutan dan lahan yang dilakukan besar-besaran. Akibat kombinasi faktor alam dan antropogenik ini, hutan dan lahan seluas 2,6 juta hektar di Indonesia habis terbakar pada 2015.

Sinergi antarsektor atasi El Nino

Dampak dari munculnya El Nino di Indonesia pada kurun 2023-2024 dan 2015-2016 menjadi alasan mengapa fenomena ini patut diwaspadai. Dampaknya yang begitu luas dan menyasar berbagai sektor kehidupan masyarakat membuat penanganannya harus melibatkan berbagai pihak. Pada rentang 2023-2024, pemerintah melakukan segenap cara agar dampak El Nino tidak berkelanjutan dan tidak membebani masyarakat.

Sebagai contoh, untuk mengatasi kurangnya pasokan bahan pangan, pemerintah akhirnya menambah kuota impor beras dan jagung. Pada tahun 2023, kuota impor jagung bahkan ditambah menjadi 1,2 juta ton dari sebelumnya sebanyak 500.000 ton. Kebijakan ini dilakukan agar harga bahan pangan dan produk turunannya tetap terkendali harganya di pasaran.

Bagi korban bencana kekeringan, pemerintah juga menggelontorkan anggaran sebesar Rp 7,52 triliun yang diberikan kepada 18,8 juta keluarga. Setiap keluarga mendapatkan Rp 200.000 sebulan selama dua bulan. Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini juga diberikan guna mendorong daya beli masyarakat akibat harga pangan yang mahal akibat El Nino.

Baca JugaAkibat El Nino ”Godzilla”, Petani Alami Penurunan Produksi dan Gagal Panen

Dari dua contoh itu saja, cukup banyak anggaran yang harus dikeluarkan guna menyikapi kondisi darurat akibat fenomena El Nino pada 2023. Dengan pengalaman ini, perlu kesiapan fiskal baik dari pemerintah pusat ataupun daerah guna menghadapi prediksi munculnya El Nino pada tahun ini. Selain itu, perlu penguatan koordinasi antarkementerian, lembaga, serta instansi terkait guna memperkuat langkah mitigasi akibat El Nino yang dampaknya menyasar ke berbagai sektor kehidupan.

Mitigasi dampak El Nino juga perlu diarahkan pada kesiapan infrastruktur sarana dan prasarana pertanian serta pencegahan karhutla. Memastikan ketersediaan air, keandalan jaringan irigrasi, hingga pompa air setidaknya menjadi langkah awal untuk menjamin berlangsungnya aktivitas pertanian ketika El Nino melanda. Untuk pencegahan karhutla, monitoring serta deteksi dini api juga perlu rutin dilakukan untuk mencegah potensi karhutla tidak meluas.

Fenomena El Nino yang terjadi secara alamiah dan periodik memang tidak dapat dihindari. Peringatan yang ada saat ini sebaiknya menjadi modal awal mempersiapkan diri guna melakukan beragam langkah preventif dan menyiapkan tata laksana prosedur penanganan ketika El Nino mulai menimbulkan dampak secara nyata. Tanpa persiapan mitigasi yang optimal, niscaya fenomena El Nino dapat menimbulkan dampak risiko yang membebani tatanan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkes Ungkap Kronologi Dokter di Cianjur Meninggal Akibat Campak
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota Bogor Putus Kabel Udara, Ini Alasannya
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Ada Spot Baru di Mega Kuningan yang Sajikan Autentik Wagyu Jepang
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
625.221 Peserta BPJS Kesehatan PBI dapat Pemulihan, Verifikasi Data Sudah 98%
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Iran-Israel dan AS Masih Panas, Harga Minyak Masih di Atas US$112
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.