BENGKALIS, DISWAY.ID– Kabar duka menyelimuti upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau. Salah satu putra terbaik Manggala Agni Daops Siak, Muharmizan (44), mengembuskan napas terakhir setelah berjibaku memadamkan api di lahan gambut Desa Palkun, Kecamatan Bengkalis, Senin (30/3/2026).
Sosok yang dikenal disiplin dan tangguh ini diduga mengalami serangan jantung akibat kelelahan fisik yang luar biasa usai menjalankan tugas mulia menjaga paru-paru dunia dari kepungan asap pekat.
Sepanjang Senin, Muharmizan bersama personel Regu 4 Manggala Agni berjuang tanpa lelah di bawah terik matahari ekstrem.
BACA JUGA:Profil Sangar Hasbi Jayabaya, Bupati Lebak yang Ungkit Status Mantan Napi Wakilnya
Medan gambut yang sulit dan kepulan asap tebal menguras energi tim hingga api berhasil dikendalikan menjelang sore hari.
Suasana tenang saat makan malam di basecamp seketika berubah menjadi kepanikan ketika Muharmizan tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan mendadak.
Rekan sejawatnya sempat memberikan pertolongan pertama sebelum mengevakuasi korban ke RSUD Bengkalis. Namun, takdir berkata lain, pejuang lingkungan asal Kampung Rempak, Sabak Auh ini dinyatakan meninggal dunia meski tim medis telah mengupayakan prosedur penyelamatan maksimal.
Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, mengonfirmasi peristiwa memilukan ini dan menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya personel yang memiliki loyalitas tinggi tersebut.
"Kami berduka cita sedalam-dalamnya. Almarhum adalah pahlawan lingkungan yang gugur dalam menjalankan amanah negara. Seluruh proses pemadaman sebenarnya berjalan sesuai prosedur, namun kondisi fisik yang menurun drastis usai bertugas menjadi penyebab utama," ujar Fahrian, Selasa (31/3/2026).
BACA JUGA:Viral! Harga BBM Meledak pada 1 April 2026, Cek Fakta dan Tanggapan Pertamina
Muharmizan bukan orang baru di dunia penanggulangan bencana. Dedikasinya selama bertahun-tahun di Manggala Agni Daops Siak menjadi bukti nyata kecintaannya pada kelestarian alam Indonesia.
Jenazah almarhum telah dipulangkan ke rumah duka di Kabupaten Siak dengan pengawalan ketat rekan sejawat sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Gugurnya Muharmizan menjadi pengingat keras akan risiko nyata yang dihadapi para petugas Karhutla di lapangan.
Di balik langit yang kembali biru, ada peluh dan pertaruhan nyawa dari para pejuang yang kerap terlupakan.





