Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) mengambil langkah strategis untuk membawa sejarah perjuangan perempuan Indonesia ke panggung dunia. Lewat kolaborasi terintegrasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), KOWANI menargetkan arsip pergerakan perempuan diakui dalam UNESCO Memory of the World.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, menjelaskan inisiatif ini bukan sekadar program biasa, melainkan sebuah gerakan peradaban. Proses pengajuannya diawali dengan riset mendalam bersama BRIN guna memastikan seluruh bukti sejarah tervalidasi secara ilmiah sebelum diserahkan ke ANRI.
"Untuk saat ini kita sudah proses. Dari pertama kita meluncur dulu ke BRIN untuk meneliti apakah betul-betul arsip ini layak. Saat ini kita juga sudah ada MoU dengan ANRI, tinggal melengkapi data-data arsipnya," ungkap Nannie di Kantor KOWANI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (31/3).
Nannie mengungkapkan, proses kurasi dan pemberkasan ini juga membuka mata terhadap fakta sejarah yang sangat otentik. Dari arsip yang kini sudah dipamerkan di ANRI tersebut, terungkap bahwa akar sejarah KOWANI yang bermula pada 22 Desember 1928 sejatinya bernama Kongres Perempuan Pertama Indonesia.
"Sampai saya baru tahu, ternyata kongres pertama perempuan itu bukan Kongres Wanita, tetapi Kongres Perempuan Pertama Indonesia. Itu jelas sekali dan ada arsipnya," tegasnya.
Adapun roadmap pengajuan sejarah ini telah disusun secara sistematis. Pada tahun 2026, KOWANI menargetkan penetapan Memori Kolektif Bangsa melalui ANRI. Selanjutnya, pengajuan resmi ke UNESCO akan dilakukan pada 2027, dengan target pengakuan dunia di tahun 2028, bertepatan dengan peringatan satu abad atau 100 tahun perjalanan KOWANI.
Selain memperjuangkan pengakuan sejarah di level global, KOWANI juga menegaskan komitmennya untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Organisasi ini secara aktif merangkul lintas generasi, mulai dari kalangan lanjut usia (lansia) produktif hingga anak-anak muda Generasi Z (Gen Z).
Bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), KOWANI tengah menyiapkan peluncuran program "1.000 Profesi" guna mengoptimalkan bonus demografi di masa mendatang. Nannie berpesan agar generasi muda tidak ragu untuk ikut melestarikan jejak pergerakan perempuan Indonesia.
"Anak-anak Gen Z, ini adalah organisasi kalian. Mari kita bersama-sama melestarikan. Perbedaan itu ibarat warna-warni pelangi atau bunga dalam satu karangan. Dengan warna-warni itulah muncul sebuah keindahan," tutup Nannie.




