Camat Tambora Sebut Penyediaan TPS Mendesak, tapi Tak Ada Lahan Kosong

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Camat Tambora, Pangestu Aji menyebut keberadaan tempat penampungan sementara (TPS) sampah yang layak di wilayah Kalianyar, Jakarta Barat, cukup mendesak.

Namun, upaya penyediaan fasilitas tersebut terbentur oleh ketiadaan lahan kosong di kawasan padat penduduk tersebut.

"Iya, kalau saya sih memang kita di Kalianyar itu enggak ada lahannya. Sekalinya ada lahan, adanya sarana olahraga, tempat lapangan Persima, ya kan enggak bisa. Gedung aset juga enggak ada," ujar Pangestu saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Anggota DPRD DKI Kerap Terima Aduan Soal Sampah di Tambora, Bau dan Banyak Tikus

Pangestu menjelaskan, tempat yang selama ini dikeluhkan warga karena berada di bahu jalan sebenarnya bukanlah TPS resmi.

"Kecamatan Tambora TPS yang resminya itu hanya dua. Di Kelurahan Tanah Sereal namanya TPS 3R Hanura, yang kedua TPS di Kelurahan Duri Utara. Udah, cuma dua aja itu," kata Pangestu.

Sementara, tempat-tempat pembuangan sampah lainnya hanya merupakan lokasi pembuangan sementara yang biasanya juga digunakan untuk memarkirkan gerobak-gerobak sampah.

"Jadi bisa dikatakan memang yang lainnya itu TPS tidak resmi, hanya penampungan sementara," ucap dia.

Didominasi limbah konveksi

Selain kendala lahan, Pangestu mengungkap sampah yang menumpuk di Tambora berbeda dengan sampah di wilayah lain yang biasanya dipenuhi oleh limbah rumah tangga, melainkan limbah konveksi.

"Sampah-sampah di Kecamatan Tambora itu 70 persen merupakan residu. Residu itu bahan-bahan dari sisaan konveksi. Nah, sisaan konveksi ini kan harusnya dia berbentuk badan usaha ya, walaupun rumahan atau rumah tangga," ucap Pangestu.

Ia menilai, banyaknya residu konveksi ini memerlukan penanganan khusus dan pengawasan bersama agar tidak membebani kapasitas penampungan sampah warga.

Baca juga: Sampah Menumpuk hingga 3 Meter di TPS Rawadas Jaktim, Imbas Pembatasan di Bantargebang

"Padahal kalau sampah rumah tangga kita aja enggak akan sebanyak itu. Harusnya mereka (pelaku usaha) bisa dibuat kayak seperti keset, enggak sembarang buang. Ini sebagai bahan evaluasi ke depannya, kita harus sama-sama bisa melakukan pengawasan," kata dia.

Sebagai solusi jangka pendek di tengah keterbatasan lahan, Pangestu menyebut telah bekerja sama dengan Suku Dinas Pertamanan untuk memanfaatkan lahan hijau sebagai tempat pengolahan sampah organik.

"Saya sudah nanya-nanya, ada solusi apa nih dari LH? Dia bilang, 'Pak, ada enggak lahan taman? Ibaratnya nanti kita buat di situ yang untuk organik ya'. Nah, ini kita lagi rancang lubang kompos," ujar Pangestu.

Nantinya, Kecamatan Tambora akan menimbun sampah organik di dalam lubang kompos area pertamanan dan akan berubah menjadi kompos dalam kurun waktu tujuh hari.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Selain pembuatan kompos, Pangestu juga mendorong optimalisasi bank sampah untuk sampah anorganik seperti botol plastik agar bisa didaur ulang menjadi kerajinan atau barang bernilai ekonomis lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjaga Asa di Ujung Gerobak: Kisah Abah Budi Menyusuri Jalanan Cihapit Bandung
• 4 menit lalukumparan.com
thumb
Film The Hostage’s Hero Angkat Kisah Nyata TNI AL, Selamatkan 36 Sandera di Selat Malaka
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Bupati Siak: Tolak MBG Jika Tak Layak
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
IHSG Ditutup Merosot ke 7.048, Ada Crossing Jumbo di Saham MDKA dan BBCA
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pramono: Zebra Cross Pac-Man di Tebet Kreativitas Positif, tapi Ada Aturan Mainnya
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.