Menjaga Asa di Ujung Gerobak: Kisah Abah Budi Menyusuri Jalanan Cihapit Bandung

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Sore hari di Jalan Suren, Cihapit, Kota Bandung, belum sepenuhnya lengang ketika Abah Budi duduk di bahu jalan bersama gerobaknya. Usianya sudah 73 tahun, namun langkahnya tetap setia menyusuri jalan yang sama, seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun.

Sejak 1998, Abah Budi menggantungkan hidup dari menjual mainan anak-anak. Gerobak sederhana yang ia dorong setiap hari bukan sekadar alat dagang, melainkan saksi perjalanan panjangnya bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota.

“Jualan dari tahun 98,” ujar Abah Budi saat ditemui, Selasa (31/3).

Mainan yang dijajakannya bukan hasil produksi sendiri. Ia membeli barang dari Pasar Baru dan Cibadak, lalu menjualnya kembali di kawasan Cihapit. Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu.

Dia jarang berjualan di sekitar sekolahan karena tahu bekal anak sekolah tak seberapa.

“Kalau anak sekolah kan biasanya bekelnya sedikit, jadi di sekitaran sini aja,” tuturnya.

Gerobak yang ia gunakan dibuat dengan tangannya sendiri. Sederhana, namun cukup kuat untuk menemani perjalanan hariannya.

Dari rumahnya di kawasan Cibinong, Abah Budi berangkat sejak subuh, sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Perjalanan itu ia tempuh seorang diri dengan mendorong gerobak sepanjang jalan.

Seharian penuh ia habiskan di pinggir jalan, dari pukul 06.00 pagi hingga 21.00 malam. Namun, kerja keras itu tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang didapat.

“Sehari nggak menentu, kadang Rp 100 ribu, kadang juga Rp 50 ribu,” katanya.

Bahkan tak jarang, ia pulang tanpa membawa uang sama sekali. Dalam kondisi seperti itu, Abah Budi terpaksa berutang di warung untuk sekadar bertahan hidup.

“Kalau nggak ada pendapatan ya paling kasbon di warung,” ucapnya pelan.

Di balik usahanya yang tak kenal lelah, tersimpan tanggung jawab yang masih ia pikul. Ia tetap berjualan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membantu kebutuhan cucu-cucunya yang masih kecil.

Sementara itu, anaknya belum memiliki pekerjaan tetap. Keinginan untuk membantu berjualan pun terkendala modal yang tidak dimiliki.

“Anak saya nganggur, mau ikut jualan juga gimana, kan butuh modal,” ujarnya.

Di tengah usia senja, Abah Budi tidak memiliki banyak pilihan. Gerobak kecil dan mainan warna-warni menjadi penopang harapan, meski penghasilan yang didapat jauh dari kata pasti.

Namun, setiap hari ia tetap berangkat mendorong gerobak, menyusuri jalan, dan menunggu pembeli yang datang atau bahkan tak datang sama sekali.

Di sudut Jalan Suren, di antara riuh kota yang terus bergerak, Abah Budi bertahan dengan caranya sendiri. Sederhana, sunyi, tapi penuh keteguhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perantara Pengedar Narkoba Diringkus di Terminal Senen, Barang Bukti 1 kg Sabu dan 1.694 Butir Ekstasi Disita
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Periksa Pengusaha Rokok M Suryo di Saksi Kasus Dugaan Suap Bea Cukai
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
KIEM Mulai Dibangun, Majalengka Bersiap Jadi Pusat Industri Baru
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kebakaran SPBE Cimuning Hanguskan 14 Rumah Warga, Pemkot Bekasi Siapkan Bantuan
• 6 jam lalukompas.com
thumb
BNI Terapkan Jadwal Operasional Terbatas Selama Libur Paskah 2026
• 5 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.