Seseorang berjalan melewati atap rumah yang runtuh akibat hujan lebat di Abbottabad, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, Senin (30/3/2026). Curah hujan tinggi yang memicu banjir dan kerusakan bangunan dilaporkan menewaskan sedikitnya 45 orang serta melukai 74 lainnya di Afghanistan dan Pakistan dalam lima hari terakhir, sementara otoritas memperingatkan potensi cuaca buruk dan banjir susulan di sejumlah wilayah. (REUTERS/Sultan Dogar)
2/5Dilansir Reuters Selasa (31/3/2026), Sebagian besar korban jiwa terjadi di Afghanistan, terutama di provinsi Parwan, Maidan Wardak, Daykundi, dan Logar. Badan Manajemen Bencana Nasional (NDMA) melaporkan banjir bandang dan tanah longsor menghancurkan sekitar 130 rumah dan berdampak pada 1.140 keluarga, sementara kondisi di beberapa wilayah masih dinilai tidak stabil. (REUTERS/Sultan Dogar)
Di Pakistan, tepatnya di provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang berbatasan dengan Afghanistan, hujan lebat menewaskan sedikitnya 17 orang, termasuk 14 anak-anak, serta melukai 25 lainnya. Banyak korban meninggal akibat runtuhnya atap dan dinding rumah yang tidak mampu menahan derasnya hujan. (REUTERS/Sultan Dogar)
4/5Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan Pakistan dan Afghanistan sebagai negara yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Musim hujan lebat tahun lalu di Pakistan bahkan menewaskan hampir 1.000 orang serta menghancurkan tanaman, ternak, dan rumah warga. (REUTERS/Sultan Dogar)
Laporan Program Pembangunan PBB juga mencatat bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan kekeringan telah merusak sekitar 8.000 rumah di Afghanistan sepanjang 2025. Berkurangnya bantuan internasional sejak Taliban berkuasa pada 2021 membuat pemerintah Afghanistan kesulitan menangani dampak bencana dan memulihkan kondisi masyarakat. (REUTERS/Ehsan Khattak)
Add as a preferredsource on Google




