Houthi Yaman mempertimbangkan pemblokiran Selat Bab al-Mandeb sebagai dukungannya kepada Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Mohammed Mansour deputi menteri informasi di pemerintahan Houthi menyatakan, pemblokiran selat tersebut dapat menimbulkan lonjakan tinggi kepada harga minyak dunia.
“Ini masih harus diputuskan. Kami masih membahas rencana aksi bersama dengan saudara-saudara Iran kami. Hal terpenting adalah memperjelas kepada musuh-musuh kami bahwa kami tidak akan pernah menyerah,” ucap Mansour, dilansir dari Antara pada Senin (30/3/2026).
Mansour juga memberikan ancaman kepada negara-negara Eropa yang menganggap Poros Perlawanan (Axis of Resistance) sebagai musuh maka harga minyak akan dinaikkan hingga 200 dolar AS per barel yang berpotensi mencekik perekonomian Eropa.
Selat Bab al-Mandeb merupakan perairan yang menghubungkkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Wilayah maritim ini menjadi jalur sempit strategis yang jika ditutup akan mengancam jalur perdagangan dan distribusi minyak global.
Untuk diketahui, pada 28 Februari AS dan Israel mengirimkan serangan terhadap Iran di beberapa target yang menyebabkan kerusakan infrastruktur hingga korban sipil.
Sebagai balasan, Iran mengirim serangan ke Israel dan beberapa pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Imbas eskalasi konflik tersebut adalah blokade de facto terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk.
Pemblokiran itu memengaruhi tingkat ekspor dan harga minyak global yang mengalami lonjakan hingga mencapai lebih dari 100 dolar AS per barel. (ant/vve/saf/ipg)




