Iman vs Logika, Apakah Keduanya Harus Bertentangan?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernah nggak sih kalian mendengar pandangan kayak, “kalau terlalu pakai logika, nanti susah buat percaya”, atau malah sebaliknya, “kalau terlalu beriman, nanti kamu nggak rasional”? Apalagi di media sosial sering kali dibahas, "apakah kamu percaya akan Tuhan?" Kalimat ini seolah-olah meminta kita untuk harus memilih salah satu dari kedua hal itu, mau jadi orang yang berpikir rasional atau jadi orang yang percaya? Sayangnya topik ini jarang sekali dibahas di sebuah artikel media.

Iman dan Logika di Kehidupan Sehari-hari

Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memang melihat iman dan logika itu sebagai dua hal yang susah untuk digabungkan. Percaya pada suatu hal yang nggak kelihatan sering dianggap sebagai bentuk yang nggak pakai logika. Sementara itu, orang yang berpikir logis dianggap lebih realistis karena berfokus pada fakta yang nyata.

Lama-lama, cara pandang ini membuat semacam batas yang nggak kelihatan oleh mata manusia, seakan-akan kayak ada “dinding transparan” yang membatasi antara iman dan logika. Kita merasa kalau keduanya itu terpisah, tapi kalau ditanya batasnya di mana, sebenarnya juga nggak jelas.

Masalahnya, cara pandang seperti ini terkesan terlalu hitam-putih. Dalam logika, hal ini disebut sebagai cara berpikir dikotomis yang seolah-olah cuma ada dua pilihan: mau berpikir rasional atau mau beriman. Padahal, nyatanya nggak sesederhana itu.

Pandangan Filsuf tentang Iman dan Logika

Kalau kita lihat dari sudut pandang filsafat, hubungan antara iman dan logika sebenarnya sudah lama sekali dibahas. Misalnya, Thomas Aquinas, seorang ahli teologi yang berpendapat bahwa iman dan rasional itu bisa loh jalan bareng. Logika membantu kita memahami dunia yang bisa dijelaskan, sementara iman membantu kita memahami hal-hal yang melampaui itu.

Di sisi lain, Søren Kierkegaard justru bilang bahwa iman memang nggak selalu bisa dijelaskan dengan logika. Ada titik di mana manusia perlu “melompat” untuk percaya, meskipun nggak semua hal itu bisa dibuktikan secara rasional.

Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi, hal ini juga masuk akal. Manusia nggak cuma berpikir pakai logika, tapi juga pakai intuisi. Kita sering membuat keputusan berdasarkan nilai, makna hidup, dan keyakinan hal-hal yang nggak selalu bisa dihitung atau dibuktikan secara ilmiah.

Sayangnya, di media sosial, perdebatan soal iman dan logika sering jadi nggak sehat. Orang yang beriman dianggap “nggak masuk akal”, sementara yang berpikir kritis dibilang “kurang beriman”. Padahal, yang terjadi sering kali bukan debat ide, tapi saling menyerang secara personal.

Di titik ini, yang bermasalah bukan iman atau logika, tapi cara kita memahaminya. Kita terlalu cepat bikin batas, terlalu cepat menaruh bagian, tanpa benar-benar memahami fungsi masing-masing.

Kesimpulan

Jadi, apakah iman dan logika harus selalu bertentangan? Nggak juga.

Bisa jadi, “dinding transparan” yang selama ini kita rasakan itu nggak benar-benar ada, tapi itu cuma cara kita melihat dunia. Dan mungkin, justru sebagai manusia, kita butuh dua-duanya, logika untuk berpikir, dan iman untuk memberi makna.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Pembatasan BBM, Warga Minta Penggunaan Diprioritaskan untuk Kerja
• 30 menit lalukompas.com
thumb
John Herdman Apresiasi Skuat Garuda yang Paksa The Lions Bertahan Sepertiga Lapangan
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel, MUI Tuntut Pertanggungjawaban!
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Kemenkes Ungkap Kronologi Dokter di Cianjur Meninggal Akibat Campak
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Fakta Kasus Andrie Yunus, Berkas Sudah Dilimpahkan ke Puspom TNI
• 3 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.