Turkiye Melepaskan 60 Ton Emas dalam Dua Minggu! Kegilaan Melepaskan Emas Demi Mendapatkan Dolar AS Mengejutkan Pasar

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Dalam dua minggu terakhir, Turkiye—yang dikenal sebagai salah satu “pemain besar” dalam pasar emas global—telah melepas sekitar 60 ton emas, mengguncang pasar internasional. Analisis menunjukkan bahwa otoritas Turkiye menggunakan dua pendekatan sekaligus: “penjualan langsung” dan “swap emas dengan valuta asing”, guna meminimalkan dampak pasar sambil memperoleh dolar AS untuk menstabilkan nilai tukar mata uang dan pasar keuangan domestik. Namun demikian, dampak terhadap harga emas global tetap tidak dapat dihindari.

EtIndonesia. Selama sepuluh tahun terakhir, Turkiye merupakan salah satu pembeli emas paling agresif di dunia. Cadangan emasnya meningkat dari 116 ton pada 2011 menjadi lebih dari 820 ton. Namun sejak pecahnya konflik Iran, pasar emas global mengalami perubahan besar, dengan harga emas terus berfluktuasi dan cenderung menurun. Baru-baru ini, Turkiye melakukan aksi penjualan emas besar-besaran, melepas sekitar 60 ton cadangan emas hanya dalam dua minggu.

Menurut data mingguan resmi Turkiye, pada minggu pertama Maret tahun ini, cadangan devisa (tidak termasuk emas) turun dari 55 miliar dolar AS (6 Maret) menjadi 47,8 miliar dolar AS (13 Maret). Namun pada 19 Maret, cadangan devisa kembali naik menjadi 53,6 miliar dolar AS. 

Sementara itu, cadangan emas Turkiye terus menurun, dari 134,1 miliar dolar menjadi 116,2 miliar dolar pada 19 Maret—turun hampir 18 miliar dolar hanya dalam satu minggu. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Turkiye sedang menjual emas dalam jumlah besar untuk ditukar dengan dolar guna menstabilkan cadangan devisa.

Media asing mengungkapkan bahwa lebih dari setengah pengurangan emas ini dilakukan melalui mekanisme “swap”, bukan penjualan langsung. Artinya, bank sentral Turkiye menyerahkan emas kepada pihak lawan (biasanya bank investasi besar) untuk ditukar dengan dolar dalam jumlah setara, sambil menandatangani kontrak berjangka untuk membeli kembali emas tersebut di masa depan dengan harga sedikit lebih tinggi. Metode ini pada dasarnya adalah bentuk pembiayaan jangka pendek.

Pelaku pasar menilai bahwa pilihan menggunakan swap memiliki beberapa alasan:

  1. Bank sentral Turkiye menilai lonjakan harga minyak akibat konflik Iran hanya bersifat sementara. Dengan swap emas, mereka dapat mengatasi kebutuhan mendesak sambil tetap mempertahankan kepemilikan jangka panjang, sehingga dapat membeli kembali emas di kemudian hari dan tidak kehilangan cadangan yang dibangun selama 10 tahun.
  2. Mengurangi dampak terhadap harga emas global. Jika Turkiye menjual 60 ton emas secara langsung, hal itu bisa memicu kejatuhan tajam harga emas dan menggerus nilai cadangan emas yang tersisa. Transaksi swap di pasar luar bursa (OTC) dapat menekan dampak tersebut.
  3. Menghindari kepanikan domestik. Pengumuman penjualan emas besar-besaran dapat memicu kekhawatiran publik, sementara swap secara teknis lebih “tersamar”.

Selain itu, sekitar 111 ton emas Turki disimpan di Bank of England dengan nilai sekitar 30 miliar dolar AS. Emas ini dapat langsung dijadikan jaminan di pasar keuangan London tanpa perlu dipindahkan secara fisik, sehingga memungkinkan transaksi berlangsung cepat dalam dua minggu.

Analis keuangan menyebutkan bahwa di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global, permintaan dolar meningkat tajam. Sementara itu, tekanan inflasi di Turkiye tetap tinggi. Untuk menstabilkan nilai tukar lira yang terus melemah, pemerintah Turkiye terpaksa menggunakan cadangan emas sebagai “pemadam darurat”.

Sejak konflik Iran pecah, nilai tukar lira terhadap dolar terus melemah, dan pada 25 Maret mencapai sekitar 44,35 lira per dolar AS.

Perlu dicatat, meskipun pemerintah Turkiye berusaha mengurangi dampak dari langkah ini, penurunan tajam cadangan emas dalam waktu singkat tetap meningkatkan kekhawatiran pasar akan efek domino, sehingga menambah tekanan penurunan harga emas.

Analis pasar juga menunjukkan bahwa dalam pasar OTC London, ketika bank sentral Turkiye menggunakan emas sebagai jaminan untuk memperoleh dolar, lembaga keuangan penerima emas biasanya akan melakukan lindung nilai (hedging) dengan menjual atau melakukan short di pasar spot maupun derivatif. Hal ini menyebabkan likuiditas emas tetap mengalir ke pasar dan secara tidak langsung menekan harga emas.

Para ahli memperingatkan bahwa jika konflik Iran terus berlanjut, negara-negara berkembang lainnya juga bisa menghadapi tekanan kekurangan dana dan terpaksa menjual emas untuk mendapatkan dolar. Ini berpotensi membalik tren “bull market” emas yang sebelumnya didorong oleh pembelian bank sentral global, dan membuat harga emas terus tertekan.

Dilaporkan oleh He Yating/Disunting oleh Lin Qing – NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Preview Bosnia vs Italia: Bayang-Bayang Kegagalan
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Gedung Gus Dur Diresmikan, RSU Muslimat Ponorogo Perkuat Layanan Kesehatan Modern
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Soal Pembatasan BBM, Warga Minta Penggunaan Diprioritaskan untuk Kerja
• 35 menit lalukompas.com
thumb
Disaksikan Prabowo, Ini 11 Perjanjian Kerja Sama Ekonomi RI-Jepang
• 22 jam laludetik.com
thumb
Hapus Tato Gratis Kembali Digelar di Pangkep, Catat Lokasinya!
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.