Dilaporkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan komandan Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, terlibat konflik dan saling menyalahkan.
EtIndonesia. Pada 30 Maret 2026, ketika konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berlangsung selama satu bulan, muncul laporan bahwa terjadi perebutan kekuasaan serius di dalam pemerintahan Teheran. Media mengungkap bahwa Presiden Pezeshkian dan pimpinan IRGC terlibat pertikaian sengit.
Menurut media independen berbahasa Persia, Iran International, yang mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, Presiden Pezeshkian baru-baru ini secara terbuka mengkritik Garda Revolusi karena terus melancarkan serangan ke negara-negara tetangga dan sengaja meningkatkan ketegangan regional, yang menurutnya akan membawa dampak kehancuran jangka panjang bagi ekonomi Iran.
Ia dengan tegas menuntut agar semua keputusan administratif terkait perang dikembalikan ke kendali pemerintah sipil, bukan dikuasai oleh IRGC. Namun, tuntutan ini langsung ditolak keras oleh Vahidi. Pihak Garda Revolusi bahkan balik menyalahkan pemerintah Pezeshkian, dengan menyatakan bahwa krisis ekonomi saat ini disebabkan oleh kegagalan pemerintah melakukan reformasi struktural sebelum perang.
Ketegangan internal ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal bulan. Menurut laporan media Israel Ynetnews, pada 7 Maret Pezeshkian merilis sebuah video yang jarang terjadi, di mana ia meminta maaf atas tindakan pasukan Iran yang “menembak secara sembarangan” ke negara tetangga, serta memerintahkan penghentian serangan. Namun, militer tampaknya mengabaikan perintah tersebut dan segera melanjutkan serangan.
Sumber anonim memperingatkan bahwa Pezeshkian secara pribadi pernah menyatakan, jika tidak ada gencatan senjata, ekonomi Iran bisa runtuh sepenuhnya dalam hitungan minggu.
Saat ini, harga-harga di dalam negeri Iran melonjak sangat cepat, bahkan disebut meningkat “per jam”. Beberapa bahan makanan pokok telah naik lebih dari 50% dibandingkan sebelum perang. Ditambah dengan gangguan internet dan kekurangan bahan baku yang parah, banyak pabrik terhenti dan sistem administrasi terganggu.
Bahkan, sejumlah pegawai negeri mengungkapkan bahwa selama tiga bulan terakhir, gaji dan tunjangan mereka tidak dibayarkan secara normal. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





