Warga Sempat Panik Isu Harga BBM Naik:, Dapat Info dari Grup RT

kompas.com
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah SPBU di Jakarta diserbu masyarakat yang panik akan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Gari (33), seorang warga Palmerah, Jakarta Barat, mengaku mendapat sebaran informasi kenaikan harga BBM tersebut dari grup-grup percakapan di lingkungannya.

"Kemarin taunya dari grup-grup WhatsApp, grup RT tadi pagi katanya besok naik jadi Rp 17.000 Pertamax-nya," kata Gari saat ditemui Kompas.com saat mengantre di SPBU, Selasa (31/3/2026) malam.

Gari mengaku sempat panik karena isu kenaikan harga yang mencapai Rp 5.550 per liter untuk jenis BBM RON 92 atau Pertamax.

Ia sebenarnya menggunakan BBM subsidi Pertalite untuk motor yang ia gunakan sehari-hari untuk bekerja. Namun, mobil keluarga yang kerap ia gunakan untuk bepergian pada akhir pekan harus menggunakan Pertamax.

Baca juga: Seskab Teddy Ajak Masyarakat-Pengusaha Ikut dan Dukung Budaya Penghematan BBM

"Mobil saya enggak ada barcode buat subsidi Pertalite, jadi panik juga karena naiknya kan lumayan ya, berasa banget gitu, jadinya langsung ngisi full tank, padahal biasanya kalau ngisi paling cuma setengah," ucap Gari.

Ia menyebut mobilnya memiliki tangki BBM sebesar 45 liter dan biasanya menghabiskan sekitar Rp 500.000 untuk mengisi tangki hingga penuh.

"Nah tapi kan kalau seliter aja naiknya Rp 5.000, berarti kalau mau full tank bisa hampir Rp 800.000, sekali ngisi full bedanya Rp 300.000, berasa banget, makanya emang sempet panik juga," kata dia.

Gari awalnya merasa skeptis dengan informasi yang belum dipastikan kebenarannya itu.

Namun, ia berpikir bahwa informasi tersebut cukup masuk akal mengingat konflik perang yang membuat stok minyak dunia menipis dan harga minyak melonjak.

"Apalagi kan disebut kalau subsidi enggak naik, tapi yang non subsidi dilepas sesuai harga global, jadi masuk akal juga gitu namanya kondisi lagi kayak gini," jelasnya.

Baca juga: BBM Tak Naik, Antrean Pembelian Pertamax Tetap Mengular di SPBU Abdul Muis

Senada, Fahri (34) pekerja swasta di Sudirman, Jakarta Pusat pun mengaku sudah berniat in untuk beralih ke kendaraan umum untuk bekerja sehari-hari jika BBM naik.

Pasalnya, Fahri cukup sering bekerja menggunakan mobil agar memudahkan dirinya untuk bepergian setelah jam kerja usai.

"Kalau naiknya Rp 1.000 atau Rp 2.000 kayaknya masih wajar, tapi kalau langsung Rp 5.000 tadinya pengin pindah aja naik KRL tiap hari, langsung pengen ngurangin aktivitas yang enggak penting," ujarnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun, berbeda dibanding Gari, ia justru mendapat informasi yang berseliweran di media sosial Instagram.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar 9 Wilayah Terdampak Tsunami di Sulut Sebelum Peringatan Dicabut
• 6 jam laludetik.com
thumb
Siloam (SILO) Borong 14 Properti Rumah Sakit dari First REIT, Nilainya Tembus Rp9 Triliun
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Eks Kadis PUPR Sumut, Topan Ginting, Divonis 5 Tahun 6 Bulan Penjara
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Gibran Soal 3 Prajurit Gugur di Lebanon: Penghormatan Setinggi-tingginya
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Pengamen Meninggal Usai Ditangkap, Satpol PP Padang Pastikan Tidak Ada Tindak Kekerasan
• 5 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.