VIVA –Seorang diplomat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohamad Safa, mengundurkan diri dari jabatannya setelah menuding lembaga tersebut tengah mempersiapkan skenario yang berpotensi melibatkan penggunaan senjata nuklir di Iran. Ia mengumumkan pengunduran dirinya melalui unggahan di platform X, yang disertai surat berisi penjelasan atas keputusannya tersebut.
Safa diketahui sebelumnya menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB. PVA sendiri merupakan organisasi internasional yang memiliki status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. Menurut program lingkungan PBB ‘Champions of the Earth’, Safa telah menjadi direktur eksekutif organisasi Patriotic Vision sejak 2013. Pada 2016, PVA menunjuknya sebagai perwakilan tetap di PBB.
Dalam unggahan di X dan surat yang menyertainya, Safa mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan panjang. Ia menilai ada sejumlah pejabat senior di PBB yang melayani kepentingan kelompok lobi kuat.
“Saya rasa banyak orang belum memahami betapa seriusnya situasi ini, ketika PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Ini adalah Teheran. Bagi kalian yang tidak paham, tidak pernah melihat langsung, tidak pernah terlibat, namun begitu bernafsu mendukung pemboman kota ini, negara ini bukan gurun dengan populasi kecil. Di sana ada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan, dan masyarakat biasa yang punya mimpi. Kalian sakit jika menginginkan perang,” tulisnya seperti dikutip dari laman NDTV, Rabu 1 April 2026.
Safa menambahkan bahwa Teheran adalah kota dengan hampir 10 juta penduduk. Ia mengajak pembaca membayangkan jika kota-kota seperti Washington, Berlin, Paris, atau London diserang dengan senjata nuklir.
“Saya rela meninggalkan karier diplomatik saya demi membocorkan informasi ini. Saya menghentikan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari, atau saksi atas, kejahatan terhadap kemanusiaan ini, sebagai upaya mencegah musim dingin nuklir sebelum semuanya terlambat,” tulisnya.
Safa juga menyinggung aksi di Amerika Serikat sehari sebelumnya, ketika hampir 10 juta orang turun ke jalan dengan slogan “No Kings”. Ia menyebut aksi itu sebagai bukti bahwa masyarakat bisa bersatu menyuarakan penolakan, termasuk terhadap isu nuklir, serta menegaskan bahwa ancaman penggunaan senjata nuklir harus disikapi dengan serius karena risikonya sangat besar.





