Musim Lebaran selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia adalah momen paling hangat dalam kalender sosial kita, saat manusia kembali menjadi manusia, bukan sekadar angka dalam sistem kerja. Orang-orang pulang, menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk duduk di ruang tamu yang sama, mencicipi opor yang sama, dan mendengar cerita lama yang diulang dengan cara yang sama. Ada tawa, ada peluk, ada jeda panjang yang akhirnya terisi kembali.
Namun di sisi lain, Lebaran juga menghadirkan potret yang ganjil, bahkan mengganggu. Ia seperti pesta besar yang meninggalkan meja kotor setelah semua tamu pulang. Kita melihat sampah menumpuk di tempat wisata, rest area berubah menjadi ruang yang semrawut, fasilitas publik rusak, dan perilaku manusia yang terasa semakin jauh dari nilai yang justru dirayakan pada hari itu sendiri.
Kontras ini bukan sekadar kebetulan. Ia adalah cermin.
Mari kita mulai dari tempat wisata. Setiap libur Lebaran, tempat-tempat seperti pantai, gunung, taman kota, hingga kebun raya menjadi magnet bagi ribuan orang. Mereka datang dengan semangat yang sama, mencari udara segar, mencari kebersamaan, atau sekadar mencari latar foto yang layak diunggah. Namun ketika mereka pulang, yang tertinggal bukan hanya jejak kaki di pasir, melainkan plastik bekas makanan, botol minuman, bungkus sekali pakai, bahkan sisa makanan yang dibiarkan begitu saja.
Fenomena ini selalu berulang. Seolah ada pemahaman diam-diam bahwa ruang publik adalah ruang tanpa tanggung jawab pribadi. Padahal, ruang publik justru adalah tempat di mana tanggung jawab kolektif seharusnya paling terasa. Kita ingin menikmati keindahan, tetapi enggan menjaga keindahan itu tetap ada untuk orang lain.
Di rest area jalan tol, cerita yang sama muncul dalam bentuk yang berbeda. Tempat yang seharusnya menjadi ruang istirahat berubah menjadi ruang uji kesabaran. Toilet penuh, lantai basah, bau pesing menyengat, dan antrean panjang yang tidak tertib. Beberapa fasilitas rusak, bukan karena usia, melainkan karena penggunaan yang serampangan. Ada keran yang dipaksa, pintu yang dibanting, bahkan tempat sampah yang tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Kita sering menyalahkan pengelola. Dan memang, pengelola memiliki tanggung jawab besar. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah semua kerusakan itu murni karena kurangnya pengelolaan, atau karena perilaku kita sendiri yang tidak siap menggunakan fasilitas bersama?
Di pinggir jalan, kita melihat traffic cone yang penyok, berpindah dari tempatnya, bahkan hilang. Benda kecil yang seharusnya membantu mengatur lalu lintas justru menjadi korban dari ketidaksabaran dan kecerobohan. Ada pengendara yang menyerempetnya, ada yang sengaja memindahkannya, ada pula yang menganggapnya sekadar objek tak berarti.
Padahal di balik benda sederhana itu, ada sistem yang berusaha menjaga keselamatan bersama. Ketika ia rusak, yang terancam bukan hanya keteraturan, tetapi juga nyawa.
Belum lagi soal vandalisme. Coretan di dinding, kursi taman yang dicoret, fasilitas umum yang dirusak tanpa alasan jelas. Aksi ini sering dianggap remeh, bahkan kadang dilihat sebagai ekspresi diri. Namun dalam konteks ruang publik, vandalisme adalah bentuk ketidakpedulian yang paling terang. Ia bukan sekadar merusak benda, tetapi merusak rasa memiliki bersama.
Dan yang paling memprihatinkan adalah perilaku di jalan. Lebaran seharusnya menjadi momen pulang dengan hati tenang. Namun yang terjadi, sebagian orang justru menjadikan jalan sebagai arena adu cepat. Kebut-kebutan, saling salip tanpa perhitungan, mengabaikan batas kecepatan, hingga akhirnya berujung kecelakaan. Setiap tahun, berita tentang kecelakaan saat mudik selalu ada. Dan setiap tahun pula, kita seperti tidak benar-benar belajar.
Ada ironi di sini. Lebaran identik dengan kata maaf. Kita saling meminta dan memberi maaf atas kesalahan yang telah lalu. Namun di jalan, kita justru menciptakan potensi kesalahan baru, yang dampaknya bisa jauh lebih besar daripada sekadar kata yang menyakitkan.
Jika kita tarik benang merahnya, semua fenomena ini berakar pada satu hal: kesadaran sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar. Kita masih sering melihat diri sebagai individu yang berdiri sendiri, bukan sebagai bagian dari ekosistem sosial yang saling terhubung.
Kita menikmati fasilitas, tetapi tidak merasa memiliki. Kita menggunakan ruang, tetapi tidak merasa bertanggung jawab. Kita ingin dilayani, tetapi enggan berkontribusi.
Padahal, Lebaran justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Ia mengajarkan tentang kebersamaan, tentang berbagi, tentang menghargai orang lain. Nilai-nilai ini tidak seharusnya berhenti di ruang keluarga atau di meja makan. Ia seharusnya terbawa ke jalan, ke tempat wisata, ke rest area, ke setiap ruang yang kita tempati.
Bayangkan jika setiap orang membawa satu kesadaran sederhana: bahwa apa yang ia lakukan di ruang publik akan memengaruhi orang lain. Membuang sampah pada tempatnya bukan hanya soal kebersihan, tetapi soal menghormati orang berikutnya yang akan datang. Menggunakan toilet dengan benar bukan hanya soal kenyamanan pribadi, tetapi soal empati terhadap pengguna berikutnya. Berkendara dengan tertib bukan hanya soal keselamatan diri, tetapi juga keselamatan orang lain.
Kesadaran ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih, tidak membutuhkan kebijakan rumit. Ia hanya membutuhkan perubahan cara pandang.
Tentu saja, perubahan ini tidak bisa terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan proses, membutuhkan pendidikan, membutuhkan contoh yang konsisten. Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat penting. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Jika mereka melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan, melanggar aturan lalu lintas, atau merusak fasilitas umum, maka perilaku itu akan dianggap normal.
Sebaliknya, jika mereka melihat kepedulian, keteraturan, dan tanggung jawab, maka nilai-nilai itu akan tertanam dengan sendirinya.
Di sisi lain, pengelola fasilitas publik juga perlu terus berbenah. Penyediaan tempat sampah yang memadai, perawatan fasilitas yang rutin, serta pengawasan yang efektif adalah bagian dari sistem yang tidak boleh diabaikan. Edukasi kepada pengunjung juga penting, baik melalui papan informasi, pengumuman, maupun kampanye yang kreatif.
Namun pada akhirnya, sistem terbaik pun tidak akan berjalan tanpa partisipasi pengguna. Ruang publik adalah ruang bersama. Ia hidup dari interaksi antara sistem dan perilaku manusia.
Lebaran akan selalu datang setiap tahun. Ia akan selalu membawa kegembiraan, kehangatan, dan harapan. Namun apakah ia juga akan selalu membawa masalah yang sama, itu bergantung pada kita.
Kita bisa memilih untuk melihat Lebaran hanya sebagai momen perayaan, atau sebagai momentum refleksi. Refleksi tentang bagaimana kita hidup bersama, bagaimana kita memperlakukan ruang yang kita gunakan, dan bagaimana kita menghargai keberadaan orang lain.
Mungkin perubahan besar tidak perlu dimulai dari hal yang besar. Ia bisa dimulai dari tindakan kecil: membuang sampah pada tempatnya, menjaga fasilitas umum, berkendara dengan tertib, dan mengingat bahwa di setiap ruang publik, kita tidak sendirian.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah perayaan tidak hanya diukur dari seberapa meriah ia dirayakan, tetapi dari seberapa baik kita meninggalkan jejak setelahnya.
Lebaran bukan hanya tentang pulang ke rumah. Ia juga tentang pulang ke nilai-nilai kehidupan.





