Centers for Disease Control (CDC) melaporkan kasus pertama subvarian baru COVID-19 — BA.3.2 — pada seorang anak perempuan asal Singapura berusia 10 tahun yang mengalami demam saat tiba di Taiwan, Selasa (31/3). Ia dinyatakan positif terinfeksi.
Menurut pihak berwenang, anak tersebut meninggalkan Taiwan pada 20 Maret dan kasus ini tidak berdampak langsung pada komunitas lokal.
Wakil Direktur Jenderal CDC Lin Ming-cheng mengatakan, World Health Organization (WHO) menambahkan varian BA.3.2 ke dalam daftar Variants Under Monitoring pada Desember tahun lalu, namun ini merupakan kasus impor pertama varian tersebut di Taiwan.
"Anak tersebut tiba di Taiwan pada 14 Maret dan diketahui mengalami demam 38,5°C saat masuk, sehingga langsung ditangani oleh petugas karantina di Bandara Internasional Taoyuan," kata Lin dilansir Taipei Times, Rabu (1/4).
"Anak itu setuju untuk memberikan sampel air liur untuk diuji, yang kemudian menunjukkan hasil positif subvarian COVID-19," tambahnya.
Lin mengatakan anak tersebut telah berada di Singapura selama 14 hari sebelum tiba di Taiwan, dan tinggal hingga 20 Maret. Selama di sana, aktivitasnya terutama berpusat di Taipei.
Anak tersebut belum menerima vaksin COVID-19 dalam 12 bulan terakhir. Setelah petugas karantina melakukan penilaian perjalanan, pekerjaan, kontak, dan klaster (TOCC), mereka mengeluarkan pemberitahuan agar ia mencari perawatan medis dalam waktu 24 jam, kata CDC.
"Tidak terjadi penularan di komunitas selama masa tinggalnya, dan masyarakat tidak perlu khawatir terkait risiko kontak," tambahnya.
"Prevalensi global infeksi varian BA.3.2 awalnya meningkat hingga sekitar 3–4 persen, namun tidak terus meningkat dan belum menjadi varian dominan," kata Lin.
"Tidak ada bukti bahwa varian BA.3.2 menyebabkan peningkatan signifikan dalam penularan atau risiko penyakit berat, meskipun masih masuk dalam kategori 'varian yang dipantau'," ujarnya.
WHO menyatakan bahwa vaksin COVID-19 yang ada tetap efektif dalam mencegah penyakit berat dari subvarian baru ini, sehingga masyarakat tidak perlu panik, katanya.
Namun, kelompok berisiko tinggi, termasuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan penderita penyakit kronis, disarankan untuk mendapatkan vaksinasi.
Terkait situasi global COVID-19, Lin mengatakan kasus di Jepang sedang menurun, tetapi infeksi di Okinawa meningkat 1,2 kali dalam empat minggu terakhir, sehingga perlu terus diwaspadai.
CDC akan terus memantau tren subvarian COVID-19 melalui pengawasan di perbatasan guna memastikan risiko wabah lokal tetap terkendali, tambahnya.





