SEMARANG, KOMPAS — Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, anggota TNI asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi satu dari tiga prajurit yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Jenazah Ichwan bakal dimakamkan di tempat pemakaman umum di Magelang. Komando Distrik Militer (Kodim) setempat menyiapkan pemakaman militer untuk mendiang Ichwan.
Kabar perihal kematian Ichwan dilaporkan oleh TNI kepada pihak keluarga pada Selasa (31/3/2026) pagi. Di hari yang sama, pihak Kodim 0705/Magelang bersama pejabat Pemerintah Kabupaten Magelang berkunjung ke rumah keluarga mendiang untuk menyampaikan duka cita.
Komandan Kodim 0705/Magelang Letnan Kolonel Infanteri Afrizal Rakhman menyebut, jenazah Ichwan masih berada di Lebanon dan sedang menunggu proses untuk pemulangan. Afrizal belum bisa memastikan kapan jenazah Ichwan sampai di tanah air. Kendati demikian, sejumlah persiapan untuk prosesi pemakaman militer telah disiapkan sembari menunggu kabar lebih lanjut dari Markas Besar TNI.
“Kami telah merencanakan persiapan pengurusan kegiatan selama di Magelang, mulai dari penyambutan jenazah, prosesi upacara sebelum pemakaman, dan upacara pemakaman militernya,” ucap Afrizal saat dihubungi, Selasa malam.
Menurut Afrizal, pemakaman Ichwan akan dilakukan di salah satu tempat pemakaman umum di Kecamatan Mungkid, Magelang. Pemilihan lokasi itu sesuai dengan keinginan pihak keluarga mendiang Ichwan.
Afrizal menambahkan, untuk menghargai jasanya, almarhum Ichwan akan diberikan kenaikan pangkat dari semula sersan satu menjadi sersan kepala anumerta. Hingga kini, kenaikan pangkat yang akan dianugerahkan untuk Ichwan sedang diproses.
Selama ini, Ichwan yang berasal dari Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, itu bertugas sebagai perawat di Kesehatan Komando Daerah Militer IX/Udayana, Bali. Sejak April 2025, Ichwan melaksanakan tugas dalam pasukan pemelihara perdamaian di Lebanon.
Sebenarnya, Ichwan dijadwalkan selesai bertugas dan bisa kembali ke tanah air pada April 2026. Namun jadwal kepulangannya itu diundur menjadi Mei 2026.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Afrizal dari pihak keluarga, Ichwan sempat pulang ke Magelang saat istrinya melahirkan pada Agustus 2025. Kala itu, Afrizal berada di rumah sekitar tiga pekan sebelum kembali ke Lebanon.
Dalam keterangannya, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah menyebut, Ichwan gugur dalam insiden ledakan kendaraan di daerah penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Tak hanya Ichwan, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar yang merupakan TNI juga meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Selain menyebabkan jatuhnya korban jiwa, insiden itu juga disebut menyebabkan dua prajurit TNI menderita luka-luka. Dua orang yang sedang dalam penanganan medis di Rumah Sakit Saint George Beirut, Lebanon, ialah Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana dan Prajurit Kepala Deni Rianto.
“TNI dalam melaksanakan penugasan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian tetap mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai standard operating procedure (SOP) UNIFIL. Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut, UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi. TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi pada dinamika di daerah misi di Lebanon,” katanya.
Sementara itu, sperti diberitakan Kompas.com, Handita Anjani (26) yang merupakan istri Ichwan mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai adanya prajurit TNI yang gugur dalam misi pada Senin. Kendati demikian, kabar itu disebutnya masih simpang siur.
“Kemarin masih simpang siur dan mengelak bukan suami saya (yang gugur). Baru pagi tadi (Selasa) A1,” ujar Anjani.
Kami telah merencanakan persiapan pengurusan kegiatan selama di Magelang, mulai dari penyambutan jenazah, prosesi upacara sebelum pemakaman, dan upacara pemakaman militernya
Anjani mengenang suaminya sebagai sosok yang baik dan penyayang. Meski berada di medan konflik, Ichwan disebut Anjani tetap berupaya menjaga komunikasi dengan keluarganya. Setiap ada kesempatan, Ichwan selalu bertukar kabar dengan dirinya. Bahkan, Ichwan sampai harus membeli nomor telepon lokal supaya bisa tetap berkomunikasi dengan lancar.
Anjani mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan Ichwan pada Minggu (29/3/2026) malam. Kala itu, Ichwan menyampaikan dirinya akan ikut berpatroli. Dalam komunikasi yang terjadi pada Minggu, Ichwan sempat mengirimkan pesan panjang, berisi ucapan terima kasih kepada Anjani karena telah menjadi istri yang baik untuk Ichwan dan ibu yang baik untuk anak mereka.
Di lingkungannya, Ichwan juga dikenal sebagai pemuda yang santun. Safroni, Ketua Rukun Tetangga setempat, menyebut, Ichwan sempat bekerja sebagai perawat di rumah sakit tentara di Magelang. Kemudian, sulung dari dua bersaudara itu pindah tugas ke Bali.
“Ya kalau pulang ke Magelang hanya pulang, terus kembali lagi ke Bali. Kalau di masyarakat, orangnya itu bagus, etikanya bagus, santun,” kata Safroni.
Sebagai bentuk solidaritas, warga sekitar disebut Safroni sudah mulai berdatangan ke rumah keluarga Ichwan sejak Senin malam. Mereka datang untuk menguatkan dan memberi penghiburan kepada keluarga yang terpukul setelah menerima kabar perihal adanya prajurit yang gugur.
Setelah mendapat kabar kematian Ichwan, para tetangga juga datang silih berganti untuk menyampaikan duka cita. Sebagian juga membantu membuat tenda dan menata kursi-kursi untuk proses penyambutan jenazah.





