Antrean Panjang BBM di Makassar, Warga Rela Tak Tidur Demi Dapatkan Solar

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah warga, pengemudi angkutan, bersiasat demi mendapatkan bahan bakar di tengah antrean yang mengular. Mereka tidak tidur hingga menunggu dini hari demi kendaraan terisi BBM. Hal itu tetap mereka lakukan meski pemerintah menjamin ketersediaan pasokannya.

Sebelum pukul 07.00 Wita, Aldo (37), telah berada di barisan terdepan antrean di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Makassar, Sulawesi Selatan. Sopir salah satu angkutan bus antarkota ini menunggu ketersediaan solar yang kosong sejak malam hingga Rabu (1/4/2026) pagi.

“Tiba di Makassar tadi subuh, habis kasih turun penumpang langsung ke SPBU,” tuturnya.

Selama perjalanan dari Palopo ke Makassar, semua SPBU mengalami lonjakan pembeli. Kendaraan mengular panjang. Meski BBM-nya mulai menipis, ia tetap melajukan kendaraan hingga Makassar.

Tanpa sempat tidur, ia segera ke SPBU mengambil antrean. Ganti pakaian, tidur, dan mandi, bahkan belum sempat ia lakukan.

Hal itu berbeda dibanding hari normal sebelumnya. Biasanya, setelah tiba, ia dan rekannya lalu mencuci mobil. Setelah kelar, ia tidur hingga tengah hari. Setelah siap, ia baru ke SPBU untuk membeli bahan bakar. Sore harinya, ia baru akan berangkat kembali.

“Kalau tidak begini tidak bisa dapat solar. Kemarin teman banyak yang terpaksa tidak jalan,” tambahnya.

Lain lagi dengan Darwin (41). Pengemudi angkutan antarkota bisa bernapas lega. Ia telah mengisi penuh kendaraan minibus miliknya dengan bahan bakar Pertalite. Ayah tiga anak ini berencana menjemput penumpang ke Kabupaten Sidrap.

Padahal, sebelumnya ia was-was melihat antrean kendaraan. Sepanjang jalan semua SPBU penuh antrean. Ia menjalankan kendaraan dengan mode irit agar menghemat bahan bakar.

“Saya sengaja tengah malam keliling SPBU. Pas di Jalan Perintis Kemerdekaan (Makassar), ada yang buka dan antrean tidak terlalu panjang. Alhamdulillah bisa dapat,” ceritanya.

Situasi ini, ia melanjutkan, membuatnya harap-harap cemas. Meski harga BBM tidak jadi dinaikkan pemerintah, tetapi masyarakat telah ketakutan dan melakukan pembelian besar-besaran.

Baca JugaAntrean BBM di SPBU Sulsel Mengular, Pertalite Diecer hingga Rp 20.000 Per Liter
Baca JugaAntrean BBM di Bandung hingga 20 Meter, Warga Cemas Isu Kenaikan Harga
Baca JugaSPBU Diserbu, Pengguna BBM Nonsubsidi di Semarang Khawatir Harga Naik

Belum lagi, persoalan pembelian dengan jerigen atau kendaraan dengan tangki modifikasi. Para pelangsir tersebut membuat stok bahan bakar di SPBU cepat habis dan tidak didapatkan oleh yang berhak.

Hal tersebut seharusnya menjadi perhatian penuh pemerintah. Pengawasan SPBU, Pertamina, dan aparat menjadi keharusan di tengah situasi yang tidak menentu.

“Kalau ada yang didapat langsung tangkap saja. Di daerah banyak sekali pelangsir BBM tapi tidak pernah ditindak,” ungkap Darwin.

Sementara itu, Wawan (38), warga Makassar lainnya, telah mengisi penuh bahan bakar kendaraan miliknya sejak beberapa hari lalu. Saat itu, isu kenaikan harga mulai mencuat. Sebelum rumor tersebut kian meluas, ia mengisi penuh bahan bakar untuk mobil dan motornya.

Hanya saja, ia was-was situasi ini kian tidak terkendali. Antrean kendaraan akan terus tinggi dan masyarakat panik membeli bahan bakar. “Menurutku harus ada kepastian biar kita tenang. Sama pelangsir itu tidak diberi ampun,” kata wiraswasta ini.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto memastikan kondisi stok BBM di wilayah Sulawesi berada dalam kondisi aman dan terus dijaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penguatan suplai dan monitoring distribusi dilakukan secara berkelanjutan di seluruh wilayah operasional.

“Pertamina memastikan ketersediaan BBM di wilayah Sulawesi tetap terjaga dengan baik. Distribusi terus berjalan dan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, sehingga masyarakat dapat mengakses energi secara optimal,” ujar Lilik.

Ia menambahkan, Pertamina terus mengawasi intensif serta koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan penyaluran berjalan lancar dan tepat sasaran.

Pemerintah sendiri telah menetapkan tidak adanya kenaikan harga BBM. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan mengubah harga subsidi dan penugasan untuk BBM, baik bensin maupun solar, meski dinamika harga minyak dunia masih berlangsung.

Saat ini, harga bensin Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp 10.000 per liter dan solar subsidi (Biosolar) Rp 6.800 per liter.

Kebijakan ini, menurut dia, merupakan komitmen Presiden untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan eksternal, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi.

Adapun untuk BBM nonsubsidi, Bahlil mengatakan pemerintah masih melakukan pembahasan dengan Pertamina dan pengelola stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) swasta. Hingga konferensi pers berlangsung, harga BBM nonsubsidi juga disebut belum berubah.

Senior Policy Advisor International Institute for Sustainable Development (IISD) Anissa Suharsono dalam keterangannya kepada Kompas, menilai keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi, sementara menaikkan harga BBM nonsubsidi memang bisa meredam tekanan politik dan sosial.

Namun, hal itu hanya untuk jangka pendek dan tidak menyelesaikan akar masalah fiskalnya. Selama harga BBM subsidi tetap ditekan di bawah harga pasar global, APBN akan terus rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.

”Dengan besarnya subsidi energi yang sudah hampir menyamai total defisit APBN, kebijakan ini sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Semakin lama harga BBM subsidi ditahan tidak naik, semakin berat penyesuaian yang harus dihadapi nantinya,” tutur Anissa.

Pemerintah, menurut dia, perlu membuat peta jalan yang jelas tentang kapan dan bagaimana harga BBM subsidi akan disesuaikan. Kemudian, pemerintah harus memikirkan bagaimana bantuan akan dibuat lebih tepat sasaran untuk meningkatkan efisiensi anggaran dan menghindari kenaikan harga yang lebih tinggi di kemudian hari (Kompas, Selasa (31/3/2026).

Di tengah kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga, warga masih berkutat dan bersiasat mendapatkan bahan bakar. Rasa was-was, susah tidur, dan khawatir terus mengelayut. Apakah besok mereka bisa membeli BBM dengan murah untuk mencari penghidupan lebih layak?

Baca JugaHarga Tak Jadi Naik, Antrean di SPBU Tetap Terjadi
Baca JugaHarga Tak Jadi Naik, Pemerintah Batasi Pembelian BBM


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pansus DPR Soroti Celah Nikah Beda Agama di LN, Minta Ditegaskan di RUU HPI
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
RMKE Raup Rp2,2 Triliun di 2025, Susut 10,1% Efek Bisnis Batu Bara Lesu
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Purbaya Prediksi Subsidi Energi Bengkak hingga Rp 100 T Tahun Ini
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Psikolog: Libatkan Anak Persiapan Sekolah untuk Atasi Post Holiday Blues
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Surat Edaran WFH Hari Jumat untuk ASN Pemda: Isi dan Lampirannya
• 8 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.