JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu atau kerap disebut sebagai cuaca “galau” yang terjadi pada masa pancaroba atau peralihan musim.
Dalam periode ini, perubahan cuaca dapat berlangsung secara cepat dari cerah menjadi hujan lebat dalam waktu singkat.
BMKG melalui akun Instagram resminya, @infobmkg, menjelaskan pancaroba dapat ditandai dengan kondisi pagi hari yang cerah dan panas terik, kemudian berubah drastis menjadi hujan yang disertai petir dan angin kencang saat siang hingga sore hari.
Kondisi tersebut merupakan ciri khas peralihan musim yang saat ini tengah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Baca Juga: Prospek Cuaca Sepekan ke Depan 31 Maret-6 April, BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Hujan Lebat
BMKG menjelaskan saat atmosfer cenderung tidak stabil, pembentukan awan cumulonimbus dapat terjadi lebih cepat.
Awan ini dikenal sebagai pemicu utama hujan intensitas lebat yang sering disertai kilat, angin kencang, bahkan berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem seperti puting beliung dan hujan es.
"Saat ini, atmosfer sedang bergejolak sehingga cuaca dapat berubah secara tiba-tiba, awan-awan raksasa (cumulonimbus) terbentuk lebih cepat membawa ancaman angin kencang, badai petir, hingga hujan es," kata BMKG dalam unggahan di Instagram.
Adapun ciri-ciri cuaca pancaroba yang perlu dikenali masyarakat meliputi:
- Pagi hari cuaca cerah dengan panas yang cukup menyengat;
- Siang hari mulai terbentuk awan gelap tebal jenis cumulonimbus;
- Sore hingga malam hari berpotensi terjadi hujan lebat yang dapat berlangsung hingga dini hari;
- Petir sering muncul, terutama setelah periode panas yang berlangsung cukup lama.
Penulis : Dian Nita Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : BMKG
- pancaroba
- musim pancaroba
- bmkg
- Awan Cumulonimbus
- ciri ciri pancaroba
- hujan lebat





