DPAA AS rutin temui keluarga prajurit hilang untuk beri dukungan

antaranews.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Tim Pertahanan Tahanan Perang/Badan Akuntabilitas Orang Hilang (DPAA) rutin mengunjungi keluarga personel Departemen Pertahanan (Dephan) AS yang hilang untuk menyampaikan perkembangan kasus serta memberikan dukungan psikologis dalam menghadapi duka.

Direktur DPAA Kelly McKeague, dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu, mengatakan pihaknya telah mengumpulkan sekitar 400 keluarga pada pekan lalu untuk memberikan informasi terbaru terkait kasus hilangnya anggota keluarga mereka, sekaligus yang terpenting ialah memberikan dukungan.

"Yang kami coba lakukan adalah mengadakan pertemuan, di mana kami mengumpulkan keluarga-keluarga ini untuk memberi mereka informasi tentang kasus mereka," kata Kelly McKeague menjawab pertanyaan ANTARA.

Menurut dia, yang memperburuk kesedihan adalah kenyataan bahwa tidak ada kepastian atas kasus hilangnya anggota keluarga mereka.

Baca juga: Perang lawan Iran, AS kaji pengerahan 10.000 tentara darat tambahan

McKeague juga menekankan bahwa ketiadaan posisi jenazah serta ketidakpastian bagi anggota keluarga—apakah mereka sudah pulang atau belum—justru menciptakan kesedihan yang semakin mendalam.

Dia mengatakan pertemuan itu menjadi wadah bagi para keluarga untuk saling bertemu dengan rekan sesama unit atau kerabat yang juga kehilangan anggota keluarga dalam pertempuran yang sama.

"Jadi, ada kesempatan untuk terhubung tidak hanya dengan kita dan mereka, tetapi juga di antara mereka sendiri; yang sekali lagi, merupakan dinamika yang menarik dan memberikan ketenangan serta penghiburan 80 tahun kemudian," ujar McKeague.

Baca juga: Laporan: Tentara AS kecewa konflik Iran, "Tak ingin mati untuk Israel"

Pada tahun 2025, DPAA telah menyelesaikan misi investigasi untuk mencari warga Amerika yang masih belum ditemukan sejak Perang Dunia II di Morotai, Maluku Utara.

Tim investigasi gabungan Indonesia dan Amerika Serikat itu mewawancarai 25 orang, melakukan lebih dari 10 survei arkeologi, serta mengumpulkan informasi berharga yang dapat membantu menemukan anggota angkatan bersenjata AS yang hilang.

Di Morotai, tim tersebut meneliti bukti sejarah, melakukan survei lapangan, dan melibatkan penduduk setempat untuk mengidentifikasi lokasi potensial untuk pemulihan.

Baca juga: Pejabat keamanan Iran klaim tentara AS ditangkap, Washington membantah

Morotai memainkan peran strategis selama kampanye Pasifik dalam Perang Dunia II, dengan menjadi pangkalan utama bagi pasukan Sekutu sejak tahun 1944, di mana puluhan tahun kemudian kawasan tersebut tetap menjadi lokasi penting dalam pencarian personel AS yang belum kembali.

Misi investigasi tersebut merupakan bagian dari upaya global DPAA untuk menemukan dan mengidentifikasi jenazah anggota angkatan bersenjata AS yang hilang.

DPAA menjalankan misi di seluruh dunia dengan didukung oleh negara tuan rumah dan masyarakat setempat dalam rangka menjalankan misinya untuk menyediakan catatan selengkap mungkin terkait anggota angkatan bersenjata AS yang hilang.

DPAA merupakan sebuah lembaga di bawah Dephan AS dengan misi untuk memulihkan dan mengidentifikasi anggota yang tidak diketahui keberadaannya serta terdaftar sebagai tawanan peran (prisoner of war) atau hilang dalam aksi (missing in action​​​​​​​) dari konflik masa lalu di berbagai negara di dunia.

Baca juga: Jerman kirim 13 tentara ke Greenland di tengah tensi geopolitik


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rismon Revisi Penelitian Ijazah Jokowi, Siapkan Buku 700 Halaman
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Bantuan Hingga Rp1,4 Juta dari KIP Kuliah 2026, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Kunjungan ke Jepang, Presiden Prabowo Kantongi Investasi Ratusan Triliun
• 20 jam lalueranasional.com
thumb
Pengusaha Rokok Pasuruan Martinus Suparman Dipanggil KPK dalam Kasus Bea Cukai
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Atap Rumah Terbang Saat Orang Tua Sakit, Warga Bekasi Panik Diterjang Puting Beliung
• 13 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.