Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti potensi koreksi produksi beras nasional sepanjang Januari—Mei 2026, meskipun kinerja pada awal tahun sempat menunjukkan peningkatan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyampaikan bahwa produksi beras periode Januari—Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton atau turun 0,38 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Produksi beras sepanjang Januari—Mei 2026 diperkirkan mencapai 16,57 juta ton atau mengalami penurunan sebsar 0,38 juta ton atau menurun 2,22% jika dibandingkan periode yang sama 2025,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Rabu (1/4/2026).
Penurunan ini sejalan dengan proyeksi melemahnya produksi pada periode Maret—Mei 2026. BPS memperkirakan produksi beras pada periode tersebut mencapai 11,91 juta ton atau turun 1,49 juta ton, setara penurunan 11,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan itu, BPS mencatat potensi produksi padi pada Maret—Mei 2026 hanya sebesar 20,68 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 2,59 juta ton GKG. Angkanya turu 11,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23,26 juta ton GKG.
Ateng menegaskan bahwa angka potensi tersebut masih dapat berubah tergantung kondisi pertanaman di lapangan sepanjang Maret—Mei 2026.
Baca Juga
- Ancaman El Nino Bayangi Produksi Beras RI Pertengahan 2026
- BPS Ramal Produksi Beras Capai 13,98 Juta Ton per April 2026
- Amran: Cuaca Ekstrem Tak Berpengaruh Terhadap Produksi Beras
“Contohnya di sini ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman atau OPT, ketika nanti ada banjir, ketika kekeringan, ketika misalnya waktu pelaksanaan panen oleh petaninya bergeser maka tentunya ini akan mengalami perubahan potensi,” jelasnya.
Dari sisi sebaran wilayah, potensi panen padi pada Maret—Mei 2026 masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.
Sementara itu, di Pulau Sumatra potensi panen berada di Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, dan Aceh. Adapun di Sulawesi terpusat di Sulawesi Selatan, serta di Kalimantan berada di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Fenomena El NinoUntuk diketahui, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi kemunculan fenomena El Nino variasi kuat atau "Godzilla" yang diperkirakan melanda Indonesia mulai April 2026.
Fenomena ini diprediksi akan diikuti oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia. Kombinasi kedua anomali iklim tersebut memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan dengan kondisi normal.
BRIN menjelaskan bahwa dampak super El Nino dan IOD Positif tidak seragam di wilayah Indonesia. Sejalan dengan hal itu, BRIN mengimbau pemerintah mewaspadai ancaman kekeringan ekstrem di wilayah selatan Indonesia yang berpotensi mengganggu stabilitas pangan nasional.
Sektor pertanian di lumbung padi, khususnya kawasan Pantura Jawa, menghadapi risiko gangguan produksi akibat kurangnya pasokan air irigasi.
Sebelumnya, pengamat pertanian juga mewanti-wanti adanya ancaman fenomena El Nino berisiko memengaruhi produksi pertanian pada pertengahan 2026.
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin mencermati peluang munculnya ENSO (El-Nino Southern Oscillation) pada pertengahan tahun ini, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut Bustanul, laporan itu berbasis pada data IRI (International Research Institute) di Columbia University, Amerika Serikat (AS).
“Jika prakiraan El-Nino itu benar-benar terjadi, berarti ada peluang terjadinya penurunan produksi padi dan komoditas pertanian lain,” kata Bustanul kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut, dia menilai bahwa pemerintah perlu menyiapkan strategi adaptasi dan mitigasi untuk produk pertanian dalam negeri, khususnya beras, seiring adanya risiko tersebut.
Ketika ditanya apakah faktor cuaca ekstrem dapat menjadi penghalang target produksi beras pemerintah sebanyak 34,77 juta ton tahun ini, Bustanul enggan berbicara terlalu dini.
Dia hanya menduga bahwa produksi beras pada 2026 tak akan berbeda jauh dari capaian tahun lalu, yaitu pada kisaran 34 juta ton. Menurutnya, ketepatan prakiraan akan bergantung pada perhitungan dan data ekonometrika.
“Prakiraan saya akan lebih akurat nanti jika data produksi musim panen rendeng April-Mei sudah keluar,” ujar Bustanul.
Adapun, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperkirakan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) dapat mencapai 5 juta ton hingga 6 juta ton pada Mei 2026.
Dia menjelaskan bahwa hingga awal Maret tahun ini, stok beras di gudang Perum Bulog telah mencapai 3,7 juta ton. Jumlah tersebut telah mencakup hasil serapan panen raya yang dikebut pada Februari lalu.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539801/original/013389400_1774621206-Timnas_Indonesia_vs_Saint_Kitts_and_Nevis-7.jpg)


