Anggota Komisi I Fraksi PDIP, TB Hasanuddin menanggapi wacana penarikan TNI dari satgas UNIFIL di Lebanon. Hal ini menyusul gugurnya 3 prajurit TNI dalam 2 hari berturut-turut, yakni Minggu (29/3) dan Senin (30/3).
TB Hasanudin, yang sempat dikirim sebagai bagian dari Satgas Kontingen Garuda (KONGA) di Irak itu menjelaskan, Indonesia tak bisa serta-merta menarik pasukan dari UNIFIL. Sebab Indonesia telah berkomitmen dengan satgas UNIFIL ini.
"Kalau disuruh mundur, menurut hemat saya, mundur ditarik maksudnya, ya tidak baik karena kita sudah komitmen kepada PBB karena kita menjadi anggota PBB. Tetapi kalau mundur secara taktis, mencari posisi yang baik yang tidak menjadi sasaran tembak dari pasukan Israel itu mungkin menjadi alternatif tapi tidak mundur dari penugasan itu," kata Hasanuddin, ditemui di DPR, Rabu (1/4).
Kedua, salah satu komposisi terbesar UNIFIL berasal dari TNI. Maka, jika TNI menarik diri dari kontingen ini, akan jadi kerugian dari pihak UNIFIL.
Padahal, UNIFIL, meski terus menerus diserang Israel tetap jadi pengawas garis demarkasi antara Lebanon dan Israel.
"Harapan kita justru yang terbanyak itu adalah dari, dari satuan TNI. Satuan TNI ini dari sekian puluh tim yang dikirim oleh negara-negara kita ini paling banyak di UNIFIL ya. Artinya tidak serta merta karena ada kasus ini kemudian mundur. Enggak, pelajari dulu," ucap Hasanuddin.
Sehingga, investigasi jadi titik krusial mengungkap insiden ini.
"Soal penarikan mundur. Menurut hemat saya, satu lakukan dulu investigasi. Hasilnya seperti apa? Yang kedua evaluasi taktis dan teknis, taktis dan teknis yang dilakukan oleh para prajurit TNI dan itu harus dilakukan evaluasi menyeluruh oleh Mabes TNI ya," Hasanuddin.
Hasanuddin masih berharap bahwa PBB mampu menuntaskan investigasinya. Sehingga, terungkap jelas siapa yang ada di balik tewasnya 3 prajurit TNI.
"Kalau ada kesalahan dari pihak mana pun misalnya Israel, kita wajib mengajukan ya untuk usulan memberikan punishment ya," pungkasnya.





