April Mop di Era Berita Palsu

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

April mooppp. Selamat datang 1 April, hari saat orang-orang merasa sah untuk mengerjai atau membodohi orang lain dengan lelucon, candaan, atau trik yang dianggap tidak berbahaya. Gurauan ini dimaksudkan agar orang-orang yang dikerjai ‘terlihat bodoh’ selama perayaan. Meski demikian, perayaan ini kini makin ditinggalkan seiring maraknya berita palsu atau hoaks.

April mop tidak ditujukan untuk membuat korbannya marah, panik, mengalami kerugian materi, atau merusak reputasi mereka. Tradisi ini justru bertujuan untuk mengajak sasaran bergurau. Seseorang yang ”dikerjai” tersebut biasanya teman atau keluarga dekat, agar bisa tertawa bersama pelaku yang jahil. Namun, seringkali guyonan April mop ini berakhir dengan kemarahan dan kedongkolan korban akibat lelucon yang keterlaluan, membahayakan, hingga melanggar privasi.

Tidak jelas kapan April mop mulai dirayakan. Ahli sejarah berdebat soal ini. Salah satu asal usul yang terus diulang-ulang terkait peristiwa ini, seperti ditulis DW, 5 April 2024, adalah peristiwa perpindahan dari kalender Julian menjadi kalender Gregorian di Perancis pada 1 April 1582.

Baca JugaApril Mop dan Sederet Peristiwa Unik di 1 April

Kalender Julian adalah kalender yang ditetapkan oleh Kaisar Romawi Julius Caesar sejak tahun 46 sebelum Masehi. Tahun baru dalam kalender ini dimulai pada 1 April sebagai tanda datangnya musim semi di belahan Bumi utara. Sedangkan kalender Gregorian atau kalender masehi yang digunakan saat ini mulai digunakan di era Paus Gregorius XIII pada 1 April 1582.

Masyarakat yang tidak terinformasi dengan perubahan kalender itu tetap merayakan tahun baru pada 1 April. Di masa itu, informasi hanya beredar dari mulut ke mulut atau melalui merpati pos sehingga penyebarannya lambat. Akibatnya, mereka yang tetap merayakan tahun baru pada 1 April langsung menjadi sasaran tertawaaan atau candaan dengan sebutan April mop atau April fools.

Gurauan itu akhirnya menjadi tradisi yang berlangsung hingga kini. Meski demikian, sejarah April mop terkait perubahan kalender dari Julian ke Gregorian itu rancu dengan catatan tentang sejarah kalender Masehi.

Dikutip dari Kompas.id, 3 Januari 2024, tahun baru di era kalender Romawi di tahun 753 sebelum Masehi (SM) dirayakan pada 1 Maret seiring datangnya musim semi di belahan Bumi utara. Pergeseran perayaan tahun baru 1 Maret ke 1 Januari diperkirakan sudah terjadi sejak tahun 450 SM seiring pergeseran awal tahun birokrasi di Romawi.

Kemungkinan, seperti dikutip dari Britannica, 30 Maret 2026, April Mop memang berasal dari Perancis tetapi akibat adanya Dekrit Roussillon yang dikeluarkan Raja Charles IX pada Agustus 1564. Dekrit ini menetapkan bahwa Perancis akan merayakan tahun baru pada 1 Januari. Dekrit ini didasari atas perbedaan perayaan tahun baru di sejumlah wilayah Perancis kala itu, mulai dari pas perayaan Hari Natal 25 Desember, 25 Maret, 1 Maret, atau pada perayaan Paskah. Dekrit ini mulai berlaku 1 Januari 1567 atau 15 tahun sebelum reformasi kalender Julian dilakukan.

Baca JugaEvolusi Kalender Masehi

Teori lain tentang asal usul April mop datang dari festival Romawi kuno Hilaria atau festival kegembiraan yang dirayakan pada 25 Maret dan didedikasikan untuk Dwi Cybele. Perayaan ini menandai datangnya ekuinoks Maret yang melambangkan sukacita seiring selesainya musim dingin dan pulihnya kembali kehidupan bersamaan dengan datangnya musim semi.

Dugaan lain, April mop terkait dengan hari pertama musim semi di belahan Bumi utara, saat alam ‘membodohi’ manusia dengan cuaca yang masih berubah-ubah dan sulit diprediksi. Di masa ini, hujan es masih bisa turun secara mendadak, meski langsung disambung dengan sinar Matahari yang terang di menit berikutnya.

Berita

Generasi X dan milenial awal adalah generasi yang cukup merasakan keriaan April mop. Di tahun 1980an-1990an, sumber informasi masih sangat terbatas dan searah. Kini, seperti ditulis The New York Times, 1 April 2025, kegembiraan April mop sepertinya hanya terasa di media sosial, khususnya dari pemilik jenama tertentu untuk mengampanyekan produknya.

Namun di sepanjang sejarah, April mop juga muncul dalam sejumlah pemberitaan media massa. Salah satu pemberitaan terkait April Mop yang paling ikonik, seperti dikutip dari BBC.co.uk, antara lain pemberitaan BBC Overseas Service (sekarang BBC World Service) pada 1980 yang menyebut jam Big Ben di London, Inggris, akan diubah menjadi jam digital. Namun lelucon ini berjalan tidak sesuai rencana hingga BBC harus meminta maaf kepada publik selama beberapa hari sesudahnya.

Berikutnya, siaran televisi BBC terkait April Mop pada 1957 yang menayangkan liputan pohon-pohon yang berbuah spageti di Swiss. Tayangan itu menampilkan cuplikan video orang-orang yang sedang ‘memanen’ spageti. Masalahnya, banyak penonton percaya dan menelepon BBC untuk meminta cara bagaimana menumbuhkan pohon spageti sendiri. CNN menyebut tayangan ini sebagai tipuan terbesar yang pernah dilakukan lembaga berita terkemuka di dunia.

Di era digital, artikel terkait April Mop itu terus diproduksi lembaga pemberitaan. Situs berita Futurism.com pada 2017 pernah mengunggah artikel berjudul, “Pluto Resmi Direklasifikasi sebagai Planet” yang menceritakan keputusan Persatuan Astronomi Internasional (IAU) yang mengubah kembali status Pluto dari planet kerdil menjadi kelompok planet kembali. Artikel April mop ini kemudian dikutip banyak situs internet tanpa melakukan pengecekan lebih dulu.

Di era informasi palsu dan disinformasi bertebaran di media sosial dan kegampangan media massa mengutip berita dari media sosial atau situs berita lain tanpa konfirmasi lebih jauh membuat artikel April mop tidak lucu lagi.

Di era informasi palsu dan disinformasi bertebaran di media sosial dan kegampangan media massa mengutip berita dari media sosial atau situs berita lain tanpa konfirmasi lebih jauh membuat artikel April mop tidak lucu lagi.

 Karena itu, di era informasi palsu dan disinformasi bertebaran di media sosial dan kegampangan media massa mengutip berita dari media sosial atau situs berita lain tanpa konfirmasi lebih jauh membuat artikel April mop menjadi tidak lucu lagi. Tidak jelas mana berita yang lelucon dan berita mana yang menulis sebenarnya.

Persoalan itu membuat sejumlah perusahaan besar mulai meninggalkan lelucon April mop karena dianggap tidak pantas lagi di tengah misinformasi (informasi salah yang tidak disengaja) dan disinformasi (informasi palsu yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan atau merugikan pihak lain ) yang merajalela. Penyebaran berita palsu juga bisa menimbulkan gugatan hukum dan berdampak panjang.

Terlebih, studi ahli bidang pemrosesan bahasa alami dari Universitas Lancaster Inggris, Edward Dearden dan Alistair Baron yang diunggap Science Daily, 29 Maret 2019, menemukan adanya kesamaan struktur tulisan dalam guyonan April mop yang diterbitkan sejumlah media dengan berita palsu yang sengaja diembuskan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

“Lelucon April mop sangat membantu dalam memverifikasi kumpulan teks yang menyesatkan. Artikel April mop menggunakan teknik linguistik yang sama yang digunakan seseorang untuk menulis sesuatu yang fiktif dan disamarkan secara faktual,” kata Dearden. Dengan membandingkan artikel April mop dan tulisan palsu, maka diperoleh gambaran yang lebih baik tentang jenis bahasa yang digunakan oleh orang yang sengaja menebar disinformasi.

Baca JugaTahun Baru, Pesta Kembang Api, dan Kontroversinya

Kesamaan di antara tulisan April mop dan berita palsu itu adalah cenderung sama-sama menggunakan kalimat sederhana, menghindari kalimat komples, tingkat kesulitan membacanya rendah, dan lebih sering menggunakan kalimat panjang dibanding berita yang asli.

Tulisan April mop dan berita palsu juga lebih jarang menyebutkan sumber asli tulisan serta nama tempat dan tanggal penulisan dilakukan. Berita palsu lebih banyak menuliskan nama-nama politisi atau orang terkenal dibanding yang disebutkan dalam artikel asli maupun tulisan April mop.

Selain itu, baik lelucon April mop maupun berita palsu lebih sering menggunakan kata ganti pertama, seperti ‘kami’. Kondisi ini bertentangan dengan pemikiran tradisional dalam mendeteksi kebohongan yang menyebut bahwa pembohong lebih sering menggunakan kata ganti pertama lebih sedikit.

Sebaliknya, jika dibandingkan berita asli, gurauan April mop umumnya memiliki tulisan yang lebih pendek, menggunakan kata-kata unik, serta lebih sering menggunakan kalimat-kalimat panjang. Lelucon April mop juga lebih enak dibaca, merujuk pada peristiwa yang tidak jelas di masa depan, mengandung lebih banyak referensi masa kini, dan kurang tertarik pada peristiwa masa lalu. Tak hanya itu, cerita April mop juga mengandung lebih sedikit kata benda khusus dan menggunakan lebih banyak kata ganti orang pertama.

Baca JugaPolisi San Francisco Terkena "April Mop"

Sementara pada berita palsu jika dibandingkan dengan berita asli umumnya menggunakan kalimat yang lebih pendek, lebih mudah dibaca, dan menggunakan bahasa yang sederhana. Berita palsu juga lebih sedikit mengandung tanda baca, dan lebih banyak menggunakan kata benda khusus. Selain itu berita palsu umumnya kurang formal, jarang mencantumkan tanggal, dan lebiuh banyak memakai kata ganti pertama.

“Meski terdapat banyak perbedaan, artikel lelucon April mop dan berita palsu memeiliki beberapa kesamaan, terutama terkait kompleksitas struktural tulisan,” ujar Baron.

Pada saat bersamaan, agar masyarakat tidak mudah terkecoh berita palsu atau hoaks, misinformasi dan disinformasi yang luas beredar di media sosial, literasi digital adalah kunci. Inilah yang menjadi tantangan terbesar di Indonesia.

Di tengah terbatasnya kemampuan orang Indonesia untuk membaca, lemahnya budaya membaca dalam masyarakat, serta mahalnya biaya untuk mengakses berita asli, maka literasi digital harus senantiasa dibangun. Setidaknya, literasi digital menjadi pelindung agar tidak mudah terkecoh dengan banyaknya berita palsu, disinformasi, dan misinformasi yang ada di masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBB Ungkap Temuan Awal Investigasi Kasus Prajurit TNI Gugur di Lebanon
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Ingatkan Pemerintah Evaluasi Berkala Kebijakan WFH ASN Setiap Jumat
• 2 jam lalumatamata.com
thumb
Dindik Jatim Siapkan Evaluasi untuk Maksimalkan Aturan Pembatasan Gadget di Sekolah
• 17 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua DPD Sultan Najamudin Raih Doktor HC dari KMOU, Tokoh RI Kedua Usai Megawati
• 3 jam laludetik.com
thumb
ASN WFH 1 Hari Tiap Jumat, Pelajar Tetap Sekolah 5 Hari Sepekan
• 18 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.