REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah sukses dalam format serial, Zona Merah akan diadaptasi ke layar lebar. Sidharta Tata yang kembali menjadi sutradara bersama Fajar Martha Santosa, mengaku cukup "tertekan" dalam proses pengembangan cerita untuk versi film.
Tata mengungkapkan tantangan utama dalam adaptasi ini adalah meningkatkan skala konflik. Jika dalam versi serial cerita berkembang dari kamp penculikan hingga menghancurkan satu kabupaten, maka dalam film mereka harus melangkah lebih jauh.
Baca Juga
Bintangi Film Baru, Fanny Ghassani Puji Ketangguhan Single Mom
Derby Romero Sebut PP Tunas Penting untuk Lindungi Anak dari Konten Negatif
Ibnu Jamil Lega! PP Tunas Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Main Medsos
"Sejujurnya kami memang sangat tertekan. Karena kalau di serial kan ya outbreak-nya level kabupaten. Dan untuk film kan nggak mungkin sama, harus bermain di level yang lebih besar lagi, yaitu pusat kota. Jadi kita akan coba membuat outbreak di kota besar," kata Tata dalam konferensi pers di kawasan Senayan, Rabu (1/4/2026).
Perluasan skala ini menjadi salah satu kerumitan utama dalam proses kreatif. Menurut Tata, ia bersama Fajar dan tim produksi harus memastikan versi film menghadirkan peningkatan signifikan, baik dari sisi cerita maupun visual. Selain itu, mereka juga mencoba bereksperimen dengan mengeksplorasi kemungkinan baru dalam tema zombi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Saat kita bicara soal zombi, kan kita mikir mau main gimana lagi nih? Playground kita sudah ada, lalu kemudian bagaimana cara kami memainkannya, itu yang kami dan tim berusaha eksplor," kata Tata.
Meski premis utama film masih dirahasiakan, Tata mengatakan film ini akan membawa elemen-elemen dari versi serial, namun dengan nuansa baru. Cerita akan berfokus pada perjuangan karakter untuk bertahan hidup di tengah ancaman mayit alias zombi yang semakin ganas.