Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal masih aman menahan dampak perang Iran dengan Amerika Serikat yang telah berlangsung sebulan terakhir. Pemerintah masih memiliki dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun yang dapat menjadi bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Purbaya mengatakan, defisit APBN 2026 tetap diproyeksikan di kisaran 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB meski rata-rata harga minyak dunia diasumsikan US$ 100 per barel sepanjang tahun
“Sekarang kan, rata-ratanya sekitar US$ 76-77 per barel. Jadi masih di bawah asumsi US$ 100 per barel tadi. Ruang kita masih terbuka lebar sebetulnya, jadi Anda enggak perlu takut dengan kondisi APBN kita,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, rabu (1/4).
Ruang fiskal, menurut dia, juga diperkuat dengan adanya efisiensi bertahap pada belanja Kementerian/Lembaga. Purbaya menyebut, pemerintah telah melakukan penghematan dalam beberapa tahap, terutama pada pos belanja yang dinilai belum prioritas.
“Ada penghematan sedikit-sedikit di sana-sini. Kami melakukan tahap satu, tahap dua, tahap tiga di belanja kementerian/lembaga yang enggak terlalu jelas,” katanya.
Di sisi lain, Purbaya mengatakan pemerintah juga memiliki bantalan kas melalui SAL yang sewaktu-waktu dapat digunakan jika tekanan fiskal meningkat tajam.
“Kalau kepepet saya punya SAL sekarang naik Rp 420 triliun,” kata Purbaya.
Namun, Purbaya menegaskan penggunaan SAL baru akan dilakukan dalam kondisi sangat mendesak. “Terpakai kalau kepepet banget,” katanya.
Karena itu, hingga saat ini tambahan kebutuhan anggaran untuk menjaga stabilitas harga energi, termasuk terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM) belum menggunakan SAL.
“Belum. Jadi kondisi keuangan negara kita amat baik, saya punya bantalan cukup banyak,” katanya.




