Kondisi hamil membuat ibu lebih berhati-hati saat melakukan gerakan-gerakan tertentu, misalnya menggendong anak yang sudah lebih besar. Apalagi, di usia balita, si kecil masih ingin bermanja dan ingin terus dipeluk atau digendong oleh ibunya. Namun, beberapa ibu mungkin jadi khawatir gerakan menggendong bisa membahayakan janin di dalam kandungan.
Seperti yang dialami oleh seorang ibu pemilik akun Instagram @firdafaizaa. Dalam videonya, ia mengungkapkan tengah hamil 6 bulan dengan anak pertamanya yang berusia 2 tahun. Di masa kehamilannya saat ini, sang kakak ternyata jadi lebih sering minta digendong.
Tapi, sebenarnya amankah menggendong anak dalam kondisi hamil?
Penjelasan Dokter Tentang Menggendong saat HamilMenurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Achmad Mediana, SpOG, menggendong anak saat hamil masih diperbolehkan. Namun, dengan syarat tidak dilakukan dalam durasi yang lama, misalnya sekadar memindahkan posisi anak dari satu tempat ke tempat lain.
“Namun, saat memasuki trimester ketiga (sekitar usia kehamilan 29 minggu ke atas), tubuh ibu mulai bekerja lebih maksimal. Di fase ini, Anda perlu lebih berhati-hati agar tetap nyaman dan aman,” kata dr. Achmad pada kumparanMOM, Selasa (31/3).
Tips Aman Menggendong Anak saat Hamildr. Achmad juga memberikan tips agar tetap bisa dekat dengan si kecil tanpa mengabaikan kesehatan ibu hamil maupun janin di dalam kandungan. Anda bisa melakukan:
Menggendong tidak terlalu lama
Pilih posisi gendong samping untuk mengurangi tekanan pada perut
Hindari menggendong anak yang sedang tantrum. Karena berisiko membuat perut ibu tertendang, kondisi ibu dan janin bisa terpengaruh.
Ingat, dengarkan juga kondisi tubuh Anda, jika terasa lelah atau tidak nyaman, sebaiknya tidak melakukannya untuk sementara waktu dan minta pasangan atau anggota keluarga lain yang melakukannya.
Kenali Risikonya, Bukan untuk DitakutiLebih lanjut, dr. Achmad mengungkapkan, menggendong beban yang berat saat hamil, terutama di trimester akhir, bisa meningkatkan risiko seperti kontraksi dini atau kelelahan berlebih. Beberapa risiko yang akan terjadi seperti kelahiran prematur, pecah ketuban, preeklamsia hingga pecah ketuban.
Namun, bukan berarti Anda harus sepenuhnya menjauh dari si kecil. Kuncinya adalah menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh dan tidak memaksakan diri.
“Selain menjaga fisik, penting juga mempersiapkan si kakak secara emosional. Anda bisa mulai mengenalkan konsep kehadiran adik sejak dini.
Hal ini juga bisa dikonsultasikan ke dokter anak atau ahli tumbuh kembang untuk mendapatkan panduan pola asuh yang tepat,” pesan dr Achmad.





