Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi secara bulanan (mtm) pada Maret 2026, terdalam sejak 4 tahun terakhir.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kondisi deflasi ini karena turunnya harga emas internasional dibandingkan Februari 2026.
"Tingkat deflasi kelompok ini merupakan yang terendah dalam 4 tahun terakhir. Komoditas yang memberikan andil deflasi terdalam pada kelompok ini yaitu komoditi emas perhiasan," ungkap Ateng saat konferensi pers, Rabu (1/4).
Ateng menuturkan, komoditas emas perhiasan mengalami deflasi perdana pada Maret 2026 setelah 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi. Tingkat deflasi emas perhiasan pada periode tersebut yaitu 1,17 persen dengan andil 0,03 persen.
Berdasarkan data BPS harga emas pada Februari 2026 berada di level USD 5.019 per troy ounce. Lalu pada Maret 2026 harga emas dunia turun ke level USD 4.881 per troy ounce.
Selain emas perhiasan, terdapat komoditas lain yang masih memberikan andil deflasi pada Maret 2026 yaitu tarif angkutan udara dengan andil deflasi sebesar 0,03 persen.
Sejumlah kelompok pengeluaran utama penyumbang deflasi yaitu komponen perawatan pribadi dan jasa lainnya, sebesar 0,21 persen dengan andil 0,01 persen.
BPS turut mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 sebesar 0,41 persen dibandingkan bulan sebelumnya (mtm).
Inflasi Tahunan Masih Tinggi
Di sisi lain, Ateng menjelaskan bahwa angka inflasi secara tahunan (year on year) mencapai 3,48 persen lantaran masih dipengaruhi oleh low base effect karena diskon tarif listrik 50 persen pada Januari-Februari 2026.
"Meskipun pada Maret 2025, tarif listrik prabayar kembali ke harga normal untuk Maret 2025. Tetapi, untuk yang pelanggan pascabayar ini masih terpengaruh diskon listrik karena kalau pascabayar kan dia bayarnya pada Februari. Inilah yang menyebabkan low base effect-nya ini terpengaruhnya sekarang relatif kecil," tutur Ateng.
Secara tahunan, seluruh komponen mengalami inflasi. Komponen inti mengalami inflasi 2,52 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,62 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti yakni terutama emas perhiasan, biaya akademik, perguruan tinggi, minyak goreng, sewa rumah, nasi dengan lauk, dan mobil.
Kemudian, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami inflasi tahunan sebesar 6,08 persen dengan andil sebesar 1,14 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil yakni terutama tarif listrik, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).
"Sedangkan untuk komponen, harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 4,24 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,72 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak, terutama daging ayam ras, beras, dan juga telur ayam ras," tandas Ateng.





