CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sulawesi Selatan mengalami inflasi tahunan Maret 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, Rabu (1/4), inflasi (y-on-y) Maret 2026 Sulsel tercatat sebesar 4,5 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,59.
Angka menunjukkan tekanan inflasi di wilayah ini semakin meningkat dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,48 persen dengan IHK sebesar 110,95.
Artinya, kenaikan harga di Sulsel berlangsung lebih cepat dibanding rata-rata nasional.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, lonjakan inflasi ini cukup signifikan. Pada Maret 2025, inflasi (y-on-y) Sulsel hanya sebesar 0,67 persen. Kenaikan dari 0,67 persen ke 4,5 persen menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga yang cukup tajam dalam satu tahun terakhir.
Secara wilayah, inflasi tertinggi pada Maret 2026 terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 5,73 persen dengan IHK 109,76. Sementara inflasi terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 2,81 persen dengan IHK 109,77.
Kenaikan inflasi ini didorong oleh naiknya harga di berbagai kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 5,65 persen, yang menjadi salah satu penyumbang utama inflasi.
Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga melonjak cukup tinggi hingga 8,92 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok kesehatan (1,1 persen), transportasi (0,39 persen), rekreasi dan budaya (0,69 persen), pendidikan (1,08 persen), restoran (2,15 persen), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak signifikan sebesar 16,55 persen.
Namun, tidak semua kelompok mengalami kenaikan harga. Beberapa kelompok justru mencatat deflasi, seperti pakaian dan alas kaki sebesar 0,9 persen, perlengkapan rumah tangga 0,34 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,12 persen.
Secara sederhana, tingginya inflasi di Sulawesi Selatan dibandingkan tahun lalu menunjukkan daya tekan harga yang semakin kuat, terutama dari kebutuhan pokok dan biaya rumah tangga.
Dibandingkan inflasi nasional, kondisi ini juga menandakan bahwa wilayah Sulsel menghadapi tantangan harga yang lebih berat.
Beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab antara lain kenaikan harga bahan pangan, peningkatan biaya energi dan utilitas rumah tangga, serta naiknya harga jasa.
Lonjakan pada kelompok perawatan pribadi dan perumahan memperlihatkan bahwa inflasi tidak hanya dipicu kebutuhan dasar, tetapi juga biaya hidup secara keseluruhan.
Sementara, tingkat inflasi month to month (m-to-m) pada Maret 2026 sebesar 0,59 persen dan tingkat Inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Sulawesi Selatan bulan Maret 2026 sebesar 2,11 persen.




