KETUA Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Theddeus O.H. Prasetyono, menyayangkan meninggalnya tiga dokter internship peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) dalam kurun Februari hingga Maret 2026. Ia menilai peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penguatan sistem perlindungan tenaga kesehatan, khususnya dokter muda yang sedang bertugas.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan setiap kasus memiliki kondisi medis yang berbeda, yakni campak dengan komplikasi jantung dan otak, dugaan anemia, serta demam berdarah dengue (DBD) dengan komplikasi syok (Dengue Shock Syndrome).
Menurut Theddeus, kepergian para dokter tersebut merupakan duka mendalam bagi dunia medis. Ia menilai kondisi ini seharusnya dapat dicegah apabila langkah antisipasi dilakukan lebih optimal sejak awal.
Baca juga : Kronologi Dokter Internsip Meninggal Versi Kemenkes
"Salah satu kolega yang kebetulan juga bersamaan dengan beberapa kolega lain yang sedang menjalani internship itu harus jatuh pada keadaan yang menyedihkan dan berakhir dengan duka," kata Theddus dalam webinar Medicine UI, Rabu (1/4).
Ia menambahkan bahwa kasus tersebut seharusnya tidak perlu terjadi. Terlebih, para dokter tersebut gugur saat menjalankan tugas pelayanan kesehatan.
“Memang upaya ini seolah terasa terlambat karena seharusnya tidak perlu terjadi, pejabat dokter yang harus gugur karena berjuang melawan penyakit, tetapi demikianlah kenyataannya,” ujar dia.
Baca juga : Mengendalikan Penyakit Autoimun agar Tetap Sehat saat Idul Fitri
Theddeus juga menyoroti lemahnya kesiapsiagaan dalam menghadapi penyakit yang sebenarnya telah lama dikenal, seperti campak. Ia menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan sistem mitigasi risiko, khususnya bagi tenaga medis yang berada di garda terdepan.
“Banyak situasi kita tidak berantisipasi dengan baik. Namun tentu saja upaya ini tetap memiliki manfaat yang sangat besar karena kita semua tidak menginginkan adanya mereka yang lain yang akan harus gugur karena berurusan dengan penyakit,” tuturnya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship, termasuk aspek perlindungan, pembinaan, dan keselamatan kerja dokter muda. (H-4)





